InfoSAWIT, SINGAPURA – Bumitama Agri Ltd, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia, menyatakan kesiapannya dalam menghadapi tantangan baru yang timbul dari pembaruan regulasi pemerintah terkait tumpang tindih lahan dengan kawasan kehutanan dan tata ruang.
Dalam rapat bersama pemegang saham, manajemen mengakui bahwa penegasan aturan oleh pemerintah Indonesia baru-baru ini berdampak langsung pada banyak perusahaan sawit, termasuk Bumitama Agri. Pemerintah kini mewajibkan perusahaan untuk memiliki sertifikat tanah guna memastikan kejelasan batas lahan yang “clean and clear”.
“Kami sedang menunggu kejelasan lebih lanjut dari pemerintah untuk dapat menilai situasi secara menyeluruh dan mengambil langkah yang diperlukan agar tetap patuh terhadap peraturan terbaru,” ujar manajemen dikutip InfoSAWIT dari Minutes of Annual General Meeting, ditulis Senin (2/6/2025). Mereka memperkirakan regulasi tersebut akan lebih jelas dalam tiga bulan ke depan.
BACA JUGA: Sinar Mas – CIRAD Perpanjang Kemitraan Riset Sawit, Dorong Solusi Iklim dan Ketahanan Pangan
Perusahaan juga menanggapi adanya kabar tentang pengalihan lahan sitaan yang sebelumnya dikelola oleh sejumlah perusahaan ke badan usaha milik negara (BUMN) baru. Meski belum ada pengumuman resmi, ada kemungkinan BUMN tersebut akan menawarkan skema kerja sama operasi dengan imbalan biaya pengelolaan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Bumitama Agri menegaskan komitmennya untuk menjalankan usaha secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. “Kami tetap mengedepankan kepatuhan terhadap hukum dan memperbarui inisiatif keberlanjutan seiring perubahan dinamika industri,” tegas manajemen.
Terkait kinerja produksi, perusahaan mencatat penurunan output yang selaras dengan tren industri, yakni antara 6% hingga 16% di wilayah sekitar. Penurunan tersebut diyakini akibat cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari La Nina tiga kali berturut-turut pada 2020, diikuti El Nino pada 2023, dan La Nina kembali pada 2024. Namun demikian, perusahaan memperkirakan produksi akan pulih hingga 5% tahun ini seiring membaiknya kondisi cuaca.
Dalam Laporan Tahunan 2024, manajemen juga menjelaskan alasan kenaikan biaya pokok penjualan sebesar 16%, yang melebihi pertumbuhan pendapatan sebesar 9%. Hal ini disebabkan oleh peningkatan pembelian TBS eksternal untuk mengoptimalkan pemanfaatan pabrik, sebagai respons terhadap potensi penurunan produksi internal.
Meski menghadapi tekanan dari volatilitas harga komoditas, cuaca ekstrem, dan biaya pupuk, Bumita Agri tetap percaya diri menghadapi masa depan. “Kami telah melewati tantangan serupa dalam beberapa tahun terakhir dan tetap mampu mencatatkan kinerja keuangan dan operasional yang memuaskan. Semangat ‘Excellence Through Discipline’ selalu menjadi fondasi operasional kami,” ujar Ketua Dewan Direksi.
Perusahaan menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen untuk terus bergerak lincah menghadapi ketidakpastian domestik maupun global, demi melindungi kepentingan pemegang saham dan menjaga keberlanjutan usaha. (T2)
