InfoSAWIT, JAKARTA – Sinar Mas Agribusiness and Food (SMAF) dan lembaga riset agrikultur Prancis, CIRAD, resmi memperbarui kemitraan strategis mereka guna memperkuat pengembangan praktik sawit berkelanjutan di Indonesia. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terbaru ini menandai kelanjutan hubungan kolaboratif yang telah terjalin sejak 1996.
Selama hampir tiga dekade, kemitraan ini telah mendorong investasi bersama senilai lebih dari Rp550 miliar dalam berbagai program riset dan pengembangan (R&D), yang mencakup produksi minyak sawit berkelanjutan, pengelolaan lingkungan, hingga teknologi pertanian presisi.
Kolaborasi ini turut melibatkan WWF Indonesia sebagai salah satu pendiri International Conference on Oil Palm and the Environment (ICOPE), yang kembali digelar pada Februari 2025. Dalam edisi terbaru konferensi tersebut, para peneliti internasional dan akademisi muda mempresentasikan temuan-temuan baru terkait ketahanan iklim dan pelestarian biodiversitas di sektor kelapa sawit.
BACA JUGA: Panen Perdana Padi Gogo di Lahan PSR Muaro Jambi, Kementan Dorong Optimalisasi Ketahanan Pangan
Dalam pernyataan resmi diperoleh InfoSAWIT, Minggu (1/6/2025), Direktur Utama SMAF, The Biao Leng menekankan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan global dan riset lapangan dalam menjawab tantangan industri sawit nasional. “Kemitraan kami dengan CIRAD memungkinkan pengembangan solusi inovatif dan praktis, tidak hanya bagi perkebunan kami tetapi juga bagi petani mandiri di seluruh Indonesia,” ujar Leng.
MoU terbaru ini memperluas cakupan kerja sama dalam pengembangan model tanaman dan simulasi dampak perubahan iklim. Tujuannya adalah membantu petani sawit meningkatkan produktivitas dan ketahanan terhadap risiko iklim yang makin meningkat.
Selain itu, kerja sama ini juga berkontribusi pada sejumlah proyek riset internasional, seperti Sustainable Palm Oil Production (SPOP) yang didanai oleh French National Research Agency (ANR), serta konsorsium International Oil Palm Genome Projects (OPGP), yang bertujuan memperluas pemahaman genetik tanaman sawit.
BACA JUGA: Kolaborasi Internasional Dorong Sawit Berkelanjutan di Rokan Hulu, Libatkan Pekebun Swadaya
Jean-Marc Roda, Direktur Regional CIRAD untuk Negara-Negara Kepulauan Asia Tenggara, menyebut kemitraan ini sebagai model transformasi berkelanjutan di sektor sawit. “Kolaborasi kami menggabungkan ketelitian ilmiah dengan dampak nyata di lapangan, menjawab tantangan utama seperti efisiensi tata guna lahan, ketahanan iklim, dan keterlibatan petani kecil,” ujarnya.
Melalui pendekatan agroforestri yang dikembangkan dalam kolaborasi ini, SMAF dan CIRAD juga berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan nasional dan pengurangan emisi karbon, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia. (T2)
