Produktivitas Masih Rendah, GAPKI Dorong Akselerasi Transformasi Industri Sawit Nasional

oleh -3.552 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi perkebunan kelapa sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi berbagai tantangan mendasar yang masih menghambat produktivitas dan daya saing di tingkat global. Ketua Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Azis Hidayat, mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama adalah rendahnya produktivitas sawit rakyat yang hingga kini masih berada di kisaran 3,55–3,6 ton CPO per hektar per tahun.

“Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara-negara produsen lainnya,” kata Azis dalam sebuah diskusi bersama pelaku industri, yang juga dihadiri InfoSAWIT, pada akhir Desember 2024 lalu di Jakarta.

Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), yang sejatinya diharapkan mampu menjadi solusi melalui penggunaan benih unggul dan perbaikan teknis budidaya, masih berjalan lambat. Menurut catatan GAPKI, dari target 2,8 juta hektare, realisasi PSR hingga saat ini baru mencapai 236 ribu hektare.

BACA JUGA: Lilin Batik Berbasis Sawit, Langkah Baru Menuju Industri Kreatif Berkelanjutan

“Kalau tidak ada percepatan, butuh puluhan tahun untuk mencapai target itu,” ujarnya.

Di sisi lain, upaya sertifikasi berkelanjutan melalui skema ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) juga belum menunjukkan kemajuan signifikan. Baru sekitar 35 persen kebun sawit yang tersertifikasi, dan sisanya masih terbentur berbagai kendala, mulai dari regulasi tumpang tindih, status kawasan hutan, hingga konflik lahan yang masih sering terjadi, terutama di wilayah Sumatera.

“Beberapa pekebun di sana bahkan terpaksa menghentikan operasional selama berminggu-minggu karena persoalan lahan yang belum selesai,” tambah Azis.

Meski demikian, Azis menyambut baik langkah pemerintah menerbitkan Permenpan Nomor 13 Tahun 2024 yang memberikan ruang kemitraan antara petani swadaya dan plasma dengan perusahaan. Namun, ia menekankan bahwa implementasi aturan tersebut masih membutuhkan harmonisasi lintas kementerian, terutama antara Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Ekonomi.

BACA JUGA: GAPKI Usulkan Pelaksana Harian Komite ISPO, Solidaridad Dorong Sertifikasi untuk Petani Sawit

Di sektor ekspor, GAPKI mencatat adanya penurunan nilai ekspor CPO sepanjang 2024. Padahal, harga sempat menembus Rp16.300 per kilogram di akhir tahun. El Nino menjadi faktor utama penurunan produksi, namun GAPKI optimistis cuaca dan produksi akan membaik pada 2025.

Meski produksi diprediksi naik, Azis mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam menerapkan kebijakan mandatori biodiesel. “Kebijakan ini harus dirancang secara matang agar tidak mengorbankan ekspor dan devisa negara,” ujarnya.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com