Pelatihan berlangsung dalam suasana partisipatif. Peserta dibagi dalam empat kelas agar interaksi dan pendalaman materi lebih optimal. Materi yang disampaikan mencakup: falsafah dan regulasi panen, kriteria kematangan buah dan dampaknya terhadap mutu, taksasi produksi dan estimasi hasil, sistem organisasi panen di tingkat kebun, teknik panen dan pascapanen yang benar, dan praktik langsung simulasi panen di lapangan.
Instruktur dalam pelatihan ini terdiri dari enam tenaga ahli dari IPB yang sudah lama membina petani sawit di berbagai daerah seperti, Dr. Ir. Haryadi, M.S., Ir. Sri Harmawan, Ir. Sofyan Zaman, M.P., Dr. Ir. Supijatno, M.S, Dr. Cecep Ijang Wahyudin, S.P., M.Si., dan Abdul Rosid, Amd., S.E
Keenamnya menyampaikan materi tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga melalui pendekatan pembelajaran orang dewasa (andragogi), sehingga sesuai dengan karakter petani lapangan.
BACA JUGA: Sawit Jadi Proyek Percontohan Hilirisasi Teknologi, Pemerintah Siapkan Model Bisnis untuk Petani
Yang menarik, pelatihan ini juga mendapat dukungan dari BPPSDMP Kementerian Pertanian, yang melalui sambutan virtual Dr. M. Apuk Ismane, menyampaikan bahwa peningkatan kualitas petani adalah fondasi dari transformasi industri sawit ke depan.
“Kita tidak hanya bicara tentang produksi dan tonase. Kita bicara tentang manusia di balik kebun. Jika mereka dibekali dengan ilmu dan cara kerja yang tepat, industri sawit Indonesia akan lebih kuat, lebih mandiri,” jelas Apuk.
IPB Training menyebut bahwa keberhasilan pelatihan ini akan diukur dari penerapan langsung di kebun, serta dampak kolektifnya terhadap peningkatan mutu hasil, efisiensi tenaga kerja, dan pengurangan kehilangan hasil.
BACA JUGA: Sawit Tanpa Pekerja Anak, GAPKI Dapat Special Award PAACLA 2025
“Ilmu itu baru bermakna kalau diterapkan. Dan saat petani berubah, seluruh sistem akan ikut bergerak,” tutup Sigit. (T2)
