InfoSAWIT, JAKARTA – Pemerintah kini menempatkan industri sawit sebagai proyek percontohan (pilot project) dalam membangun ekosistem hilirisasi teknologi nasional yang berpihak pada rakyat. Melalui kerja sama antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan Dewan Minyak Sawit Indonesia serta mitra lintas sektor, arah pembangunan riset dan inovasi mulai difokuskan pada dampak nyata di lapangan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa sawit merupakan produk strategis yang belum memiliki proses hilirisasi yang dikawal hingga tuntas. “Ini kita jadikan pilot, dan kita kawal sampai betul-betul jadi,” ujarnya dalam pertemuan lintas sektor yang digelar Kamis.
Dalam pertemuan itu, Brian menekankan pentingnya pengembangan teknologi pengolahan sawit rendah emisi, serta penerapan model bisnis inklusif berbasis koperasi petani. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada produk akhir, tapi juga menata ulang rantai pasok dan sistem ekonomi lokal yang selama ini belum tersentuh inovasi teknologi.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 0,76 Persen Pada Kamis (12/6), Harga CPO di Bursa Malaysia Menguat Tipis
Dikutip InfoSAWIT dari kemdiktisaintek, Jumat (13/6/2025), salah satu capaian riset yang kini memasuki tahap komersialisasi adalah teknologi pengolahan sawit tanpa air (dry process) dengan suhu rendah di bawah 80°C. Teknologi ini dikembangkan oleh konsorsium ITB, MIPA UI, PT NCA, dan Agro Investama, dan menghasilkan produk seperti RBMO (Refined Bleached Minimized-Olein) dengan kandungan 3-MCPD yang sangat rendah—memenuhi standar internasional.
Ke depan, teknologi ini akan dibawa ke kebun petani swadaya dalam bentuk mini plant hemat energi yang tidak menghasilkan limbah cair. Skema bisnisnya disiapkan dalam bentuk kepemilikan bersama oleh petani melalui koperasi. Dalam jangka waktu tertentu, pengelolaan pabrik akan sepenuhnya dialihkan ke petani.
Kemdiktisaintek mencatat bahwa sekitar 34,8% dari 6,88 juta hektare kebun sawit rakyat saat ini perlu diremajakan untuk meningkatkan produktivitas. Dengan proyek replanting dan pembangunan infrastruktur mini plant di atas 1 juta hektare lahan, pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi mencapai Rp171 triliun.
Namun, potensi keuntungannya dinilai sepadan. Proyek ini ditargetkan mampu meningkatkan pendapatan sektor sawit dari Rp61,5 triliun menjadi Rp142,7 triliun per tahun pada 2029, serta menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 16 juta jiwa. Selain itu, teknologi rendah emisi ini membuka peluang perdagangan karbon, dengan estimasi nilai USD15 per ton karbon—di mana pasar Tiongkok siap menyerap hingga 30 juta ton.
