InfoSAWIT, SIAK – Konflik agraria antara warga dan perusahaan perkebunan PT Seraya Sumber Lestari di Kabupaten Siak, Riau, memuncak pada Rabu (11/6/2025). Ratusan warga yang diliputi amarah membakar belasan rumah karyawan dan pos keamanan milik perusahaan di Kampung Tumang, Kecamatan Siak. Aksi massa ini menjadi puncak ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa waktu.
Asap hitam pekat membubung dari lokasi pembakaran, sementara massa terus bergerak menyerbu sejumlah fasilitas perusahaan. Pos keamanan dirusak, kendaraan karyawan dihancurkan. Aksi ini disebut sebagai bentuk kekecewaan warga terhadap lambannya penyelesaian konflik lahan yang berkepanjangan.
Warga menuding PT Seraya Sumber Lestari bertanggung jawab atas perusakan kebun kelapa sawit milik masyarakat yang berada di Kampung Merempan Hulu. Tanaman sawit yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga disebut dirusak tanpa dasar yang jelas, memicu kemarahan yang akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 11–17 Juni 2025 Turun Rp11,55 per Kg
Di tengah situasi yang memanas, Bupati Siak Afni Zulkifli turun langsung ke lokasi untuk meredam ketegangan. Dengan didampingi aparat keamanan, Afni berupaya menenangkan warga dan memastikan bahwa persoalan ini akan ditangani secara serius.
“Kami sudah menyampaikan bahwa perjuangan hak tanah masyarakat adalah visi utama kami. Kami hadir di sini untuk memperjuangkan sawit lama yang menjadi sumber penghidupan masyarakat,” ujar Afni dilansir InfoSAWIT dari Metrotvnews, Sabtu (14/6/2025).
Afni juga berjanji akan memfasilitasi dialog antara warga dan pihak perusahaan, serta menempuh jalur hukum jika diperlukan agar hak-hak masyarakat bisa dipulihkan. Ia meminta warga untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang bisa memperkeruh keadaan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 13-19 Juni 2025 Turun Rp63,81 per Kg
Sementara itu, pihak perusahaan belum memberikan pernyataan resmi terkait peristiwa ini. Namun aparat kepolisian telah diterjunkan ke lokasi untuk mengamankan situasi dan melakukan penyelidikan terhadap kerusakan fasilitas serta potensi korban dalam insiden ini.
Konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan perkebunan di Riau bukanlah hal baru. Persoalan batas wilayah, klaim lahan adat, serta pengelolaan tanah plasma kerap menjadi sumber ketegangan yang berujung pada konflik terbuka. Peristiwa di Siak ini menjadi pengingat bahwa penyelesaian agraria yang adil dan inklusif masih menjadi tantangan besar di banyak daerah.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi di Kampung Tumang mulai kondusif meski aparat keamanan masih berjaga. Pemerintah daerah menyatakan akan segera membentuk tim mediasi untuk mencari jalan keluar dari konflik berkepanjangan ini. (T2)
