InfoSAWIT, ENTIKONG – Hama tupai kembali menjadi momok bagi petani kelapa sawit di wilayah perbatasan Entikong. Hewan pengerat ini sering menyerang tandan buah segar yang telah matang, menggigit dan merusaknya sebelum dipanen. Alhasil, petani harus menelan kerugian panen yang tak sedikit. Namun di tengah keterbatasan, muncul solusi baru yang sederhana namun menjanjikan: bahan-bahan alami dari dapur.
Seiring meningkatnya kesadaran akan bahaya penggunaan pestisida kimia bagi lingkungan dan makhluk hidup non-target, para petani mulai mengalihkan perhatian ke metode yang lebih ramah lingkungan. Salah satu pendekatan yang kini sedang diuji dan disebarluaskan adalah penggunaan ekstrak cabai rawit untuk mengusir tupai.
Cabai rawit mengandung kapsaisin, senyawa pedas yang tak disukai hewan pengerat. Di lapangan, petani hanya perlu menghaluskan cabai, mencampurnya dengan air dan sedikit sabun cair sebagai perekat, lalu menyemprotkannya ke tandan atau batang sawit. Meski tidak mematikan, aroma dan rasa menyengat dari larutan cabai ini cukup untuk membuat tupai menjauh.
BACA JUGA: BPDP Luncurkan Katalog 100 Produk UKMK Sawit, Dorong Inovasi Serta Buka Peluang Ekonomi Daerah
“Ini bukan racun, tapi lebih ke penolak alami. Begitu tupai kena semprot atau mencium baunya, dia ogah balik lagi,” ujar Supardi, petani sawit di Dusun Gun Tembawang, Entikong. “Yang penting rutin, setiap beberapa hari sekali,” tambahnya dilansir InfoSAWIT darin KBRN RRI, Jumat (20/6/2025).
Tak hanya cabai, bawang putih pun menunjukkan efektivitas tinggi sebagai penolak hama berkat kandungan antibakteri dan aromanya yang tajam. Cara penggunaannya pun tak jauh berbeda: dihancurkan, dicampur air, dan disemprotkan pada area yang sering diserang tupai.
Beberapa petani bahkan bereksperimen mencampurkan cabai dan bawang putih dalam satu larutan. “Kalau dicampur, hasilnya lebih ‘nendang’. Tupai bisa kabur lebih lama,” tutur Beni, petani lainnya yang sudah mencoba metode ini sejak awal tahun.
Selain dua bahan dapur tersebut, minyak kayu putih dan minyak serai wangi juga mulai digunakan. Aromanya yang kuat terbukti tidak disukai tupai. Cukup dicampur air atau diteteskan pada kapas dan ditempatkan di dekat pohon sawit, tupai enggan mendekat.
Meski metode ini tidak memberikan efek jangka panjang seperti pestisida kimia, namun manfaat utamanya adalah keamanan bagi lingkungan dan biaya yang rendah. “Bahan-bahan ini bisa didapat di pasar tradisional, murah dan tidak mencemari tanah,” ungkap salah satu penyuluh pertanian di wilayah perbatasan.
