InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Malaysia kembali menegaskan komitmennya terhadap energi berkelanjutan dengan meluncurkan proyek percontohan penggunaan biodiesel sawit B20 untuk kendaraan operasional darat (Ground Support Equipment/GSE) di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Proyek yang dimulai sejak Februari 2025 ini menjadi tonggak baru dalam penerapan bioenergi berbasis komoditas lokal di sektor penerbangan.
Inisiatif ini dijalankan oleh Kementerian Perladangan dan Komoditi Malaysia (KPK) melalui Lembaga Minyak Sawit Malaysia (MPOB), dengan menggandeng sejumlah mitra strategis seperti Petronas Dagangan Berhad, Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB), dan Syarikat Teras Kembang Sdn Bhd.
Menteri Perladangan dan Komoditi, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, menyebut peluncuran ini sebagai langkah bersejarah karena untuk pertama kalinya bahan bakar biodiesel B20 digunakan secara resmi untuk operasional GSE di bandara Malaysia.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Kamis (19/6), Harga CPO di Bursa Malaysia Cenderung Stagnan
“Proyek ini menjadi bukti nyata bahwa kami serius memperluas penggunaan energi berkelanjutan berbasis komoditas tempatan. Dengan implementasi B20 di KLIA, kini seluruh rantai pasok bahan bakar di lingkungan bandara telah mulai bertransformasi menuju keberlanjutan,” ujar Johari dikutip InfoSAWIT dari Facebook resmi Kementerian Perladangan dan Komoditi Malaysia, Jumat (20/6/2025).
Kendaraan GSE seperti truk pengangkut bagasi, kendaraan layanan darat, dan bus internal bandara merupakan bagian penting dari operasional harian di bandara internasional. Dengan penggunaan biodiesel B20, emisi karbon dari kendaraan-kendaraan ini dapat ditekan, sejalan dengan target Malaysia menuju ekonomi karbon rendah.
Menurut MPOB, biodiesel B20 yang digunakan merupakan campuran 20% metil ester sawit dengan 80% solar, dan telah terbukti aman digunakan pada kendaraan diesel konvensional. Sebelumnya, penggunaan biodiesel B20 telah diperluas di sektor transportasi darat di sejumlah negara bagian, dan kini mulai merambah sektor penerbangan.
BACA JUGA: BPDP Luncurkan Katalog 100 Produk UKMK Sawit, Dorong Inovasi Serta Buka Peluang Ekonomi Daerah
“Ini bukan hanya tentang pengurangan emisi, tetapi juga tentang memaksimalkan nilai tambah dari kelapa sawit Malaysia yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian negara,” jelas Johari.
Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, dan terus mencari cara untuk meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk, termasuk pengembangan bahan bakar nabati. Peluncuran proyek biodiesel B20 di KLIA dipandang sebagai langkah maju untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sawit dapat menjadi solusi energi bersih dan ramah lingkungan.
Proyek ini juga sejalan dengan strategi nasional untuk memperluas penggunaan bahan bakar terbarukan dan memperkuat posisi sawit dalam rantai nilai global. Selain KLIA, pemerintah berencana memperluas implementasi ini ke bandara lain jika hasil uji coba terbukti berhasil dan efisien.
BACA JUGA: Biochar Jadi Solusi Ganda Petani Sawit di Riau, Hemat Pupuk Serta Tambah Penghasilan
“Ini bukan akhir, tapi awal dari sebuah gerakan besar menuju sistem transportasi udara yang lebih hijau,” tutup Johari Abdul Ghani. (T2)
