InfoSAWIT, ROKAN HULU – Di tengah naiknya harga pupuk dan tantangan keberlanjutan dalam sektor perkebunan, sekelompok petani sawit di Rokan Hulu, Riau, mencoba peruntungan dari hal yang selama ini dianggap limbah: tandan kosong kelapa sawit (tankos). Melalui pelatihan pembuatan biochar yang digelar di Desa Bono Tapung, Kecamatan Tandun, Selasa, para petani menemukan cara baru untuk mengelola kebun sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis limbah.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) dan didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Lebih dari 100 petani dari lima desa—Bono Tapung, Dayo, Kumain, Tapung Jaya, dan Boncah Kusuma—mengikuti praktik langsung mengubah tankos menjadi biochar, sebuah bahan pembenah tanah yang juga dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Menurut Setiyono dari Aspekpir, pelatihan ini bukan hanya ajang transfer pengetahuan, tetapi juga upaya membangun ekonomi kerakyatan berbasis limbah. “Biochar bisa menjadi produk UKMK (Usaha Kecil Menengah dan Koperasi) yang bernilai jual. Petani tak hanya menghemat biaya pupuk, tapi juga bisa menjual biochar ke sesama petani,” ujarnya dalam sambutan di aula Kantor Desa Bono Tapung.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 18–24 Juni 2025 Turun Rp78,73 per Kg
Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya digelar di Kabupaten Kampar. Rokan Hulu menjadi salah satu dari hanya tiga kabupaten di Riau yang terpilih menjadi lokasi pelatihan, menandakan tingginya potensi dan komitmen daerah ini dalam mendorong inovasi pertanian.
Kepala Desa Bono Tapung, Riyanto, menyambut baik inisiatif ini. Ia menilai bahwa pelatihan semacam ini memberi solusi nyata bagi petani yang kian terbebani oleh tingginya harga pupuk kimia. “Dengan biochar, kita bisa punya pupuk organik dari limbah yang sebelumnya tidak terpakai. Ini sangat membantu petani,” tuturnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (19/6/2025).
Tankos, yang selama ini hanya ditumpuk di pabrik atau dibuang begitu saja, sejatinya merupakan sumber daya potensial. Di Rokan Hulu, terdapat 49 pabrik kelapa sawit (PKS) yang setiap harinya menghasilkan tankos dalam jumlah besar. Jika dikelola dengan benar, limbah padat ini bisa menjadi bahan utama pupuk organik sekaligus solusi pengelolaan limbah sawit yang lebih berkelanjutan.
BACA JUGA: Pemkab Inhil Tanam Perdana Padi Gogo di Lahan PSR, Wujudkan Sinergi Sawit dan Pangan
Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Rohul, CH Agung Nugroho, menegaskan bahwa inisiatif Aspekpir ini merupakan terobosan penting dalam mendukung kelapa sawit berkelanjutan. “Kegiatan ini meningkatkan wawasan dan kapasitas SDM petani. Biochar sangat mudah dibuat karena bahan bakunya melimpah. Kita dorong agar pelatihan seperti ini menjangkau desa-desa lain,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Divisi UKMK BPDP, Helmi Muhansah, yang hadir secara virtual. Ia berharap pelatihan ini tak berhenti di praktik saja, tapi benar-benar diterapkan di kebun petani dan bahkan bisa menghasilkan produk siap jual. “Kalau petani bisa memproduksi biochar dalam skala UKMK, itu akan menjadi lompatan besar dalam pemberdayaan ekonomi lokal,” ujarnya.
