InfoSAWIT, INDRAGIRI HILIR — Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mengambil langkah strategis dalam penguatan ketahanan pangan melalui integrasi sektor perkebunan dan pangan. Bupati Inhil, Herman, memimpin langsung kegiatan tanam perdana padi Gogo di lahan kelapa sawit program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai bagian dari inovasi optimalisasi lahan.
Kegiatan yang berlangsung Senin, ini bukan sekadar seremoni. Inisiatif ini merupakan upaya nyata untuk memanfaatkan lahan sawit PSR secara produktif, terutama di masa jeda setelah penebangan dan sebelum tanaman sawit baru menghasilkan. Padi Gogo dipilih sebagai komoditas tumpangsari karena dinilai adaptif terhadap kondisi lahan dan iklim, serta berpotensi mendongkrak produktivitas petani.
“Program ini bukan hanya simbolis, tetapi menjadi awal dari langkah nyata kita dalam mengintegrasikan sektor perkebunan dan pangan. Saya berharap kegiatan seperti ini terus berkembang dan dapat diperluas ke wilayah-wilayah lain di Inhil,” ujar Bupati Herman dilansir InfoSAWIT dari Media Center Riau, Kamis (19/6/2025).
BACA JUGA: Mengenal Proses Panjang Minyak Sawit: INSTIPER Bangun Generasi Ahli dari Hulu hingga Hilir
Herman menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk hadir di setiap tahapan, mulai dari penyediaan benih hingga pendampingan teknis lapangan. Ia juga mengajak para petani dan kelompok tani untuk memanfaatkan program ini secara maksimal.
“Saya mendorong para petani memanfaatkan program ini dengan sebaik-baiknya. Saya juga akan memastikan pemerintah daerah hadir untuk mendampingi,” tegas Herman.
Sejak 2022, realisasi program PSR di Kabupaten Inhil telah mencapai 813 hektar. Untuk tahun ini, pemerintah menargetkan perluasan hingga 1.000 hektar. Sebagai bagian dari integrasi sektor pangan, usulan penanaman padi Gogo di lahan PSR mencapai 607 hektar. Guna mendukung hal ini, kebutuhan benih diperkirakan sebesar 12.140 kilogram dengan varietas unggul Inpago.
BACA JUGA: Teladan Prima Agro Perluas Portofolio, Caplok 99,99% Saham CDM
Langkah ini menjadi strategi ganda: mempercepat pemanfaatan lahan selama masa peremajaan sawit sekaligus memperkuat produksi pangan lokal. Melalui pendekatan ini, petani tak hanya menunggu sawit tumbuh kembali, tetapi juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari panen padi.
Lebih jauh, Bupati Herman menyampaikan harapannya agar model integrasi sawit dan pangan ini dapat menjadi contoh pengembangan kawasan pertanian berbasis komoditas unggulan yang adaptif dan berkelanjutan. Dengan kombinasi tanaman jangka panjang (sawit) dan jangka pendek (padi), petani akan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik.
“Kita ingin program ini menjadi solusi jangka panjang. Tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga kesejahteraan petani. Kita akan terus dorong agar pendekatan seperti ini bisa direplikasi di kecamatan-kecamatan lain,” kata Herman.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 18-24 Juni 2025 Turun Rp133,4 per Kg
Melalui sinergi antara pemerintah, petani, dan sektor perkebunan, Inhil optimistis dapat terus memperkuat posisinya sebagai daerah strategis yang tak hanya unggul di sektor kelapa sawit, tetapi juga tahan terhadap tantangan pangan di masa depan. (T2)
