Langkah Aspekpir ini juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang tengah menggencarkan program huluisasi, yaitu peningkatan kapasitas di sektor hulu kelapa sawit. Menurut Helmi, fokus pada sektor hulu sangat penting agar pasokan tandan buah segar (TBS) tetap terjaga dan mendukung program hilirisasi industri sawit.
“Huluisasi saat ini menjadi perhatian pemerintah karena produktivitas kebun rakyat harus terus ditingkatkan. Jika tidak, industri hilir sawit juga akan terdampak,” tegasnya.
Melalui pelatihan pembuatan biochar, petani Rokan Hulu menunjukkan bahwa inovasi tidak harus datang dari teknologi tinggi atau investasi besar. Cukup dengan memanfaatkan potensi lokal—seperti limbah tankos—dan dukungan dari lembaga seperti BPDP serta organisasi petani, langkah menuju sawit berkelanjutan bisa dimulai dari desa.
Kegiatan ini juga membuka jalan bagi pengembangan usaha mikro berbasis pertanian, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
BACA JUGA: MPOC Perkirakan Harga CPO Bertahan di Kisaran RM3.900–RM4.200 per Ton hingga Juli 2025
Bagi Riyanto dan warga Desa Bono Tapung, pelatihan ini bukan sekadar transfer teknologi, melainkan benih perubahan. “Kami ingin warga tidak hanya paham cara membuat biochar, tapi juga menjadikannya sebagai bagian dari cara hidup bertani yang lebih bijak dan mandiri,” pungkasnya. (T2)
