InfoSAWIT, MENDALO – Sebuah terobosan penting di dunia perkebunan sawit lahir dari kampus Universitas Jambi (UNJA). Pada Selasa, Fakultas Pertanian UNJA resmi meluncurkan DIGISAWIT—Sistem Informasi Korporasi Petani Sawit Digital Berkelanjutan—yang digadang-gadang akan menjadi solusi nyata atas berbagai persoalan klasik yang selama ini membelenggu petani sawit di Jambi.
Peluncuran ini berlangsung di Auditorium L.1 Gedung UNIFAC UNJA Mendalo dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, mulai dari Rektor UNJA Helmi, Sekda Provinsi Jambi H. Sudirman (mewakili Gubernur), pimpinan daerah dari Kabupaten Muaro Jambi dan Batang Hari, perwakilan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), akademisi, mitra koperasi unit desa (KUD), serta para petani dan mahasiswa.
DIGISAWIT dirancang sebagai platform digital terintegrasi yang menghubungkan manajemen kebun, produksi, dan pemasaran secara real-time berbasis traceability dan prinsip ramah lingkungan. Sistem ini sekaligus dirancang untuk mendukung sertifikasi sawit berkelanjutan yang kini menjadi prasyarat penting di pasar global, khususnya Uni Eropa.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 18–24 Juni 2025 Turun Rp78,73 per Kg
Rektor UNJA, Helmi, menyebut peluncuran DIGISAWIT sebagai bukti konkret peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat secara langsung.
“Aplikasi ini adalah bukti bahwa UNJA hadir dan berdampak nyata bagi masyarakat. Ini hasil kerja keras tim peneliti kami yang didanai BPDPKS. Harapannya, DIGISAWIT bisa meningkatkan kesejahteraan petani sawit sekaligus membantu menurunkan kemiskinan ekstrem di Provinsi Jambi,” ujar Helmi dilansir InfoSAWIT dari laman UNJA, Jumat (20/6/2025).
Kondisi yang dihadapi petani sawit swadaya di Jambi memang cukup kompleks. Tingginya biaya input produksi, rendahnya produktivitas—yang bahkan mencapai 60% di bawah potensi optimal—serta akses pasar yang terbatas menjadi tantangan utama. Lebih dari 42.000 pekerja kebun sawit di provinsi ini masih hidup dalam kemiskinan ekstrem karena tak memiliki lahan dan kesulitan membentuk kelompok tani.
BACA JUGA: Biochar Jadi Solusi Ganda Petani Sawit di Riau, Hemat Pupuk Serta Tambah Penghasilan
Sekretaris Daerah Jambi, H. Sudirman, menyoroti pentingnya peran DIGISAWIT dalam memotong mata rantai kemiskinan tersebut.
“Platform ini harus jadi solusi konkret. Kami ingin petani sawit miskin bisa terlibat dalam korporasi petani berbasis digital, sehingga mereka bisa mendapatkan akses pendanaan, lahan, dan pendampingan teknologi secara merata,” ujarnya.
