Lebih dari sekadar alat pencatat produksi, DIGISAWIT hadir dengan semangat transformasi struktural: memperkuat posisi tawar petani dalam rantai nilai industri sawit, membuka peluang ekspor berbasis keberlanjutan, serta memfasilitasi kolaborasi antara petani dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga riset internasional.
Prof. Suandi dari BPDPKS menambahkan, kehadiran DIGISAWIT merupakan bentuk pemanfaatan dana sawit secara strategis untuk memperkuat kelembagaan petani di lapangan.
“Ini adalah perwujudan visi BPDPKS untuk tidak hanya mendorong hilirisasi produk, tapi juga memberdayakan petani sawit secara langsung,” ucapnya.
BACA JUGA: BPDP Luncurkan Katalog 100 Produk UKMK Sawit, Dorong Inovasi Serta Buka Peluang Ekonomi Daerah
Ke depan, UNJA berencana memperluas penggunaan DIGISAWIT ke berbagai wilayah sentra sawit lain di Sumatera. Proses ini akan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dengan dukungan pemerintah daerah, KUD, lembaga donor, hingga mitra internasional yang berfokus pada keberlanjutan komodsitas tropis. (T2)
