Pertumbuhan ekspor bulanan ini terutama didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas utama di pasar global seperti timah, emas, aluminium, dan minyak kelapa sawit. Meski tidak dominan, sawit tetap menjadi salah satu komoditas yang memberikan kontribusi stabil dalam menjaga nilai ekspor.
Membaiknya kondisi perdagangan global pasca kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok, serta pertumbuhan ekonomi positif di negara-negara mitra seperti AS (3,00%), Tiongkok (1,10%), dan Singapura (1,40%) turut menjadi faktor pendorong.
Mendag Busan juga menekankan pentingnya strategi jangka panjang melalui diplomasi perdagangan. Pemerintah menargetkan penyelesaian beberapa perjanjian dagang penting, seperti Indonesia–Uni Eropa CEPA, Indonesia–Kanada CEPA, dan Indonesia–Peru CEPA. Selain itu, pembukaan akses ke pasar Afrika juga menjadi fokus dalam paruh kedua tahun ini.
BACA JUGA: Impor Minyak Sawit India Tembus Rekor 11 Bulan, Dorong Optimisme Pasar Global
“Tahun ini kita serius membuka jalan ke pasar nontradisional seperti Afrika. Pendekatan sudah mulai dilakukan agar produk-produk Indonesia, termasuk hasil pertanian dan perkebunan, bisa masuk lebih luas,” jelas Mendag.
Menanggapi dinamika kebijakan perdagangan internasional, terutama tarif resiprokal dari Amerika Serikat, Kementerian Perdagangan telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Langkah ini tidak hanya untuk melindungi pasar dalam negeri, tetapi juga memperkuat daya saing ekspor nasional.
Dengan kombinasi strategi ekspansi pasar, optimalisasi komoditas unggulan, dan stabilitas ekonomi makro, kinerja ekspor Indonesia diperkirakan tetap kuat hingga akhir tahun.
BACA JUGA: Tingkatkan Kapasitas SDM, Pelatihan Pemetaan Perkebunan Sawit Digelar di Aceh Libatkan 89 Petani
“Kita bersyukur tren surplus sudah berlangsung selama 62 bulan berturut-turut. Ini menjadi modal kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Mendag Busan. (T2)
