InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Persediaan minyak sawit mentah (CPO) Malaysia diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan, didorong oleh naiknya produksi dan pola musim panen yang lebih menguntungkan. Namun, berbagai lembaga riset memproyeksikan bahwa total stok nasional masih akan berada di bawah ambang dua juta ton, mencerminkan pasar yang relatif ketat.
Data terbaru menunjukkan bahwa stok CPO Malaysia per akhir Maret naik 3,5% secara bulanan menjadi 1,56 juta ton, meskipun turun 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan kenaikan bulanan pertama sejak September 2024.
Dilansir New Straits Times, CIMB Securities dalam risetnya menjelaskan bahwa lonjakan stok terutama disebabkan oleh peningkatan output. Produksi minyak sawit pada Maret mencapai 1,39 juta ton, naik 17% secara bulanan namun turun tipis 0,4% secara tahunan. Angka ini sedikit melampaui rata-rata lima tahun terakhir untuk bulan yang sama, yakni 1,38 juta ton.
BACA JUGA: 89,6% Perkebunan Sawit Malaysia Tersertifikasi MSPO, Pemerintah Perkuat Komitmen Cegah Kerja Paksa
“Peningkatan produksi ini terutama didorong oleh kondisi cuaca yang lebih baik,” ujar CIMB dalam catatannya. Lembaga itu juga memperkirakan stok akan naik sekitar 7% pada April, didorong oleh peningkatan hasil panen dan menurunnya konsumsi domestik.
Namun, dari sisi harga, CIMB tetap mempertahankan pandangan negatif jangka pendek. Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta penurunan tajam harga minyak mentah global dipandang sebagai risiko yang dapat menekan harga CPO.
“Kebijakan tarif balasan dari AS dan Tiongkok berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menurunkan permintaan komoditas secara keseluruhan,” jelas CIMB. Harga minyak mentah yang rendah juga dinilai mengancam kelangsungan program biodiesel, yang selama ini menjadi penopang permintaan CPO.
BACA JUGA: Direktur PGUN Tamlikho Jual Seluruh Sahamnya, Saham Emiten Milik Haji Isam Melonjak
Meski begitu, CIMB tetap mempertahankan proyeksi harga CPO rata-rata tahun ini di level RM4.200 per ton, namun memperkirakan harga akan sedikit lebih lemah pada kuartal II 2025 di kisaran RM4.726 per ton seiring membanjirnya pasokan.
Lembaga itu juga memberikan rekomendasi “Overweight” terhadap sektor pertanian dan kehutanan, menandakan prospek positif untuk saham-saham di sektor ini. (T2)
