InfoSAWIT, BANDA ACEH — Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) bersama sejumlah raksasa industri seperti Apical, Mars Wrigley, Mondelēz International, Musim Mas Group, Nestlé, PepsiCo, Permata Group, Sinarmas Agribusiness and Food, dan Unilever resmi meluncurkan inisiatif sukarela untuk mendorong produksi minyak sawit berkelanjutan di Aceh.
Peluncuran ini berlangsung dalam Seminar Internasional “Menumbuhkan dan Melindungi Ekonomi Minyak Sawit: Melampaui Rantai Pasokan” di Banda Aceh, 12–13 Agustus 2025. Inisiatif yang berbentuk Kelompok Kerja ini bertujuan mendukung produksi minyak sawit bebas deforestasi sekaligus memperkuat inklusi petani kecil, dengan menyelaraskan upaya para anggotanya pada Peta Jalan Minyak Sawit Berkelanjutan Aceh.
Acara dua hari tersebut dihadiri lebih dari 160 peserta lintas sektor, mulai dari pemerintah provinsi, pelaku usaha, mitra pembangunan, organisasi masyarakat sipil, hingga asosiasi bisnis. Diskusi membahas langkah konkret untuk menjadikan Aceh pusat produksi sawit yang ramah lingkungan dan memberi manfaat bagi masyarakat lokal.
BACA JUGA: Produktivitas Sawit Bisa Melesat Berkat Inovasi dari IPB
Para anggota Kelompok Kerja berkomitmen mendukung target Peta Jalan tanpa membagikan informasi sensitif atau rahasia dagang, sekaligus tetap mempertahankan kemandirian penuh dalam pengadaan. Kelompok ini juga membuka pintu bagi perusahaan lain yang memiliki visi serupa. Bentuk kolaborasi yang ditawarkan mencakup membantu pabrik mengadopsi sumber bahan baku bebas deforestasi, mengintegrasikan petani kecil ke rantai pasokan global, dan memanfaatkan sistem pemantauan hutan Aceh.
Wakil Gubernur Aceh H. Fadhlullah menegaskan, Aceh telah menetapkan kondisi yang memungkinkan untuk menarik investasi hijau. “Juga dapat mengarah pada inklusi petani kecil, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan hijau,” katanya dari informasi yang didapat InfoSAWIT, Kamis (14/8/2025).
Dukungan internasional pun mengalir. Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menilai Peta Jalan dan Kelompok Kerja ini mencerminkan kepemimpinan Aceh dalam mendorong keterlibatan multi-pemangku kepentingan dan memastikan pengelolaan sawit yang menguntungkan manusia serta lingkungan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Rabu (13/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Kembali Menguat
Sementara itu, Utusan Khusus Iklim dan Hutan Norwegia, Nils Hermann Ranum, menyebut pembentukan kelompok kerja ini sebagai langkah strategis yang menempatkan Aceh di posisi ideal untuk memanfaatkan peluang dari meningkatnya permintaan global terhadap komoditas bebas deforestasi. “Kami melihat komitmen kuat untuk membangun sinergi antar pemangku kepentingan, yang menjadi modal penting bagi keberhasilan Aceh,” ujarnya. (T2)
