InfoSAWIT, JAMBI – WWF-Indonesia bersama Yayasan Pundi Sumatera, Universitas Jambi, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Brawijaya menggelar kegiatan Sekolah Jangka Benah (SJB) di Fakultas Pertanian Universitas Jambi, baru-baru ini.
Sebanyak 19 peserta dari Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, akademisi, hingga kelompok tani lokal Bungo Pandan dan Setia Jaya Mandiri ikut serta dalam kegiatan ini. Program SJB hadir untuk menjawab persoalan keterlanjuran kebun sawit di kawasan hutan yang berdampak serius pada ekologi maupun ekonomi.
“Sekolah Jangka Benah bertujuan membangun pemahaman teknis, sosial, dan kebijakan terkait penerapan agroforestri sawit secara bertahap. Kegiatan ini juga menjadi momentum awal pembangunan demplot sebagai percepatan implementasi dan sarana edukasi multipihak,” kata penyelenggara.
BACA JUGA: Hasil Riset Sebut Konsep Agroforestri Mampu Genjot Produksi Sawit Sekaligus Ramah Lingkungan
Pada sesi workshop, Kepala Bidang Perhutanan Sosial Dinas Kehutanan Jambi, Bambang Yulisman, memaparkan mekanisme pengajuan izin perhutanan sosial, termasuk hak, kewajiban, serta pengelolaan pasca izin. Ia menekankan pentingnya penataan areal, rencana kelola, pengembangan usaha, hingga penyelesaian konflik tenurial. “Perhutanan sosial harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan,” tegasnya dilansir InfoSAWIT dari WWF Indonesia, Rabu (20/8/2205).
Sementara itu, pakar agroforestri dari Universitas Jambi, Dr. Bambang Irawan, menjelaskan teknik dan potensi sistem tanam campur sawit. Menurutnya, agroforestri mampu meningkatkan nilai ekonomi lahan dengan menambahkan komoditas seperti durian, kopi, alpukat, hingga tanaman atsiri. “Selain mendukung ekologi, diversifikasi ini juga memberi nilai tambah ekonomi,” jelasnya.
Narasumber dari Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Hero Marhaento bersama tim, memaparkan rancangan teknis Strategi Jangka Benah yang terdiri dari dua tahapan: active planting dengan pola sawit campur, dan fading out untuk mengembalikan fungsi hutan. Mereka mengingatkan bahwa keberhasilan strategi ini membutuhkan dukungan teknis berkelanjutan, kebijakan yang berpihak, dan pengembangan demplot sebagai bukti praktik baik.
BACA JUGA: Perkebunan Sawit di Kalteng Rawan Narkotika, Gapki Gandeng BNN Perketat Pengawasan Pekerja
Peserta juga diajak praktik menyusun rancangan teknis intervensi rehabilitasi hutan berbasis jangka benah. Sesi diskusi berlangsung interaktif, dipenuhi pertanyaan dan pengalaman lapangan dari petani.
Antusiasme tinggi peserta menutup hari pertama kegiatan. Harapannya, program ini menjadi tonggak pemulihan hutan berkelanjutan di Jambi dan dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa. (T2)
