InfoSAWIT, JAKARTA – Peneliti dari World Agroforestri (ICRAF), Nimatul Khasanah, mengungkapkan sistem agroforestri diyakini mampu meningkatkan produktivitas disaat bersamaan bisa melindungi lingkungan. Dalam paparannya pada konferensi kelapa sawit dan lingkungan, ia mengutarakan bahwa penelitian jangka panjang mengenai produktivitas sistem agroforestri di Indonesia masih terbatas, terutama dalam hal tanaman kelapa sawit.
Menurutnya, sistem agroforestri tidak hanya berfokus pada kelapa sawit sebagai tanaman utama, tetapi juga pada pohon pendamping. Efektivitas sistem ini bergantung pada pemilihan spesies, kepadatan tanaman, serta pengaturan jarak tanam yang tepat. Dalam penelitian terbaru, digunakan pendekatan uji coba lapangan serta model simulasi komputer untuk menganalisis produktivitas jangka panjang.
Salah satu studi yang dilakukan bekerja sama dengan Universitas Nottingham dan Universitas Indonesia meneliti respirasi ekosistem serta keanekaragaman hayati dalam sistem agroforestri. Hasilnya menunjukkan bahwa perkebunan sawit yang diperkaya dengan pohon memiliki keanekaragaman hayati lebih tinggi dibandingkan dengan sistem monokultur. Selain itu, semakin luas area penanaman pohon pendamping, semakin signifikan peningkatan keanekaragaman hayati tanpa mengurangi produktivitas kelapa sawit.
BACA JUGA: Menjembatani Sawit dan Diplomasi, Pertemuan Strategis PT Agrinas dan Wamenlu Havas
Dalam aspek cadangan karbon tanah, penelitian yang dilakukan di Brasil menganalisis kandungan karbon dalam tanah pada berbagai tingkat keanekaragaman spesies, baik dengan persiapan lahan manual maupun mekanis. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem agroforestri dengan keanekaragaman spesies yang tinggi memiliki kandungan karbon tanah yang lebih besar dibandingkan sistem tradisional.
Model simulasi komputer juga digunakan untuk mengeksplorasi berbagai skenario agroforestri dengan kombinasi tanaman yang berbeda. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem agroforestri dapat meningkatkan produktivitas lahan serta mengurangi limpasan permukaan. Rasio kesetaraan lahan dari sistem ini sedikit di atas 1, dengan kontribusi karbon yang lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur.
Selain manfaat ekologi, aspek ekonomi juga menjadi perhatian dalam penelitian ini. Analisis menunjukkan bahwa agroforestri memberikan pengembalian tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur, meskipun biaya awalnya lebih besar. Kombinasi kelapa sawit dengan kakao dan lada juga terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air tanah serta rasio manfaat terhadap biaya yang lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur.
BACA JUGA: UGM Ungkap Realita Sosial Program PSR, Petani Dihadapkan pada Risiko dan Harapan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa agroforestri dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan, mendukung pendekatan berbagi lahan dibandingkan dengan sistem monokultur intensif. Oleh karena itu, pengumpulan data jangka panjang dalam sistem agroforestri sangat penting untuk mendukung pengambilan kebijakan dan strategi keberlanjutan di sektor perkebunan. (T2)
