InfoSAWIT, MUMBAI — Peta perdagangan minyak sawit Asia memasuki babak baru. Dalam ajang SEA AGM & GlobOil India 2025, tiga asosiasi besar—Asosiasi Pengekstrak Pelarut India (SEA), Aliansi Minyak Sawit Asia (APOA), dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)—menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tiga pihak. Kesepakatan ini menjadi langkah penting memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, keberlanjutan, inovasi, dan pengembangan pasar di seluruh rantai nilai minyak sawit kawasan.
Bagi India, komoditas ini bukan sekadar bahan baku industri pangan. Dengan ketergantungan impor lebih dari 60 persen untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati nasional, minyak sawit menjadi tulang punggung stabilitas pasokan. Indonesia, sebagai pemasok utama selama lebih dari satu dekade, berperan vital dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Pada Agustus 2025, misalnya, impor minyak sawit India tercatat melonjak hampir 16 persen menjadi 990.528 ton—angka tertinggi dalam setahun terakhir. Kondisi inilah yang melatari lahirnya kesepakatan strategis antara SEA, APOA, dan GAPKI.
Presiden SEA, Shri Sanjeev Asthana, menegaskan bahwa kemitraan ini akan membawa manfaat ganda. “SEA menyambut kerja sama dengan GAPKI dan APOA sebagai langkah penting memperdalam hubungan India dengan Indonesia dan mitra Asia lainnya. MoU ini tidak hanya memperkuat akses India terhadap minyak sawit berkualitas dengan harga terjangkau, tetapi juga membuka peluang kerja sama teknis yang dapat memberi stabilitas lebih besar bagi industri minyak nabati di India,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (29/9/2025).
Nada serupa disampaikan Atul Chaturvedi, Ketua APOA. Menurutnya, kesepakatan ini menjadi tonggak bersejarah bagi konsumen minyak sawit di Asia. “Bersama GAPKI dan SEA, kami ingin memastikan pasokan yang aman, memperkuat kerja sama regional, serta meningkatkan kesadaran konsumen. Fokus kami adalah mewakili suara konsumen di Asia sekaligus memajukan keberlanjutan dan pertumbuhan inklusif,” katanya.
Sementara itu, Dr. B. V. Mehta, Direktur Eksekutif SEA sekaligus Sekretaris Jenderal APOA, menilai MoU ini sebagai terobosan kolaboratif. “Langkah ini memperkuat keamanan pasokan minyak nabati India dan menegaskan komitmen bersama terhadap keberlanjutan, transparansi, serta inovasi dalam rantai nilai minyak sawit. Dengan menyelaraskan upaya melalui SEA, GAPKI, dan APOA, kita membangun platform kuat untuk berbagi pengetahuan, dialog kebijakan, dan pengembangan pasar yang bermanfaat bagi seluruh kawasan,” jelasnya.
Dari Indonesia, Ketua GAPKI Eddy Martono menegaskan arti penting minyak sawit bagi perekonomian nasional. Ia menyoroti upaya yang ditempuh Indonesia melalui sertifikasi ISPO, konservasi hutan, hingga penerapan praktik produksi yang bertanggung jawab. “India adalah salah satu pasar ekspor utama sekaligus mitra strategis bagi Indonesia. Melalui kemitraan ini, kami siap bekerja sama untuk memenuhi permintaan konsumen sambil mendorong praktik berkelanjutan. MoU ini juga akan meningkatkan kesadaran publik tentang kontribusi positif industri minyak sawit, dari hulu hingga hilir,” tegas Eddy.
BACA JUGA: PP 45 Tahun 2025 Dinilai Jadi “Suntik Mati” Industri Sawit Nasional
Kesepakatan yang berlaku tiga tahun ini memiliki enam fokus utama. Pertama, memfasilitasi interaksi pemangku kepentingan lewat pertukaran delegasi dan kunjungan rutin. Kedua, meningkatkan perdagangan melalui pameran, konferensi, dan webinar. Ketiga, mendorong pertukaran informasi dan standar teknis agar industri semakin efisien. Keempat, menjalankan proyek bersama untuk memperkuat keberlanjutan, selaras dengan kerangka Indian Palm Oil Sustainability (IPOS) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kelima, meningkatkan kesadaran konsumen guna mengatasi kesalahpahaman publik. Dan keenam, advokasi kebijakan dengan pemerintah serta regulator untuk menurunkan hambatan perdagangan.
