Analis properti menilai, masuknya Genting menandakan meningkatnya daya tarik pasar properti Indonesia di mata investor regional. “Konglomerat seperti Genting memiliki visi jangka panjang. Ketika mereka masuk ke pasar Indonesia, itu bukan semata proyek bisnis, melainkan strategi regional,” ujar salah satu analis di Jakarta.
Meski demikian, akuisisi Genting juga menunjukkan bagaimana grup besar yang semula berakar di industri perkebunan kelapa sawit kini semakin agresif menapaki sektor nonkomoditas. Pergeseran ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan agribisnis raksasa mulai berinvestasi di sektor properti, energi terbarukan, dan hiburan, untuk memperkuat posisi keuangan dan menghadapi fluktuasi harga komoditas.
Genting: Dari Kebun Sawit ke Resor Dunia
Didirikan oleh Tan Sri Lim Goh Tong pada 1965 dan kini dipimpin oleh Tan Sri Lim Kok Thay, Genting Group berkembang menjadi salah satu konglomerasi paling berpengaruh di Asia. Di bawah payung korporasi Genting Malaysia Berhad dan Genting Plantations Berhad, grup ini memiliki jaringan bisnis dari perkebunan kelapa sawit hingga resort kelas dunia.
Melalui Genting Plantations, grup ini mengelola ribuan hektare perkebunan di Sabah, Sarawak, dan Kalimantan Barat, sekaligus menjadi pionir dalam produksi minyak sawit berkelanjutan. Kini, Genting menambah satu babak baru dalam ekspansinya — membawa modal dan pengalaman lintas industri ke sektor properti Indonesia.
Dengan transaksi akuisisi lahan Sentul senilai Rp2,05 triliun ini, Genting tak hanya memperluas bisnisnya, tetapi juga menegaskan transformasi dari konglomerat sawit menjadi pemain global di sektor real estate dan pariwisata. (T2)
