InfoSAWIT, OSAKA — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas mengambil langkah strategis dalam memperkuat integrasi pembangunan ekonomi nasional dengan agenda lingkungan berkelanjutan. Langkah ini diwujudkan melalui kerja sama perdagangan karbon di sektor kelapa sawit bersama Chinese Society for Environmental Sciences (CSES).
Kerangka kerja sama bilateral tersebut dibahas dalam High-Level Meeting on the Preparation of Bilateral Cooperation between Bappenas and CSES on Innovative Development Financing through Carbon Trading in the Sustainable Palm Oil Industry yang digelar di Paviliun Indonesia, Expo 2025 Osaka, Kansai, Jepang, pada 11 Oktober 2025.
“Nota kesepahaman antara Indonesia dan China akan membentuk kerangka kerja sama yang komprehensif, dengan fokus pada integrasi perdagangan, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan, khususnya melalui perdagangan karbon pada komoditas kelapa sawit,” ujar Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas, Teni Widuriyanti dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Jumat (17/10/2025).
BACA JUGA: Prabowo Tegas Berantas Tambang dan Sawit Ilegal, 5 Juta Hektare Lahan Kembali ke Negara
Kerja sama ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang menekankan pentingnya pembiayaan pembangunan inovatif, hilirisasi industri sawit, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan koperasi. Dalam implementasinya, kolaborasi ini akan mengembangkan inovasi teknologi rendah emisi seperti Pabrik Kelapa Sawit Rendah Emisi (PaMER) dan Controlled Emission Composting Chamber (CECC). Kedua inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengolahan sawit, menekan emisi karbon, sekaligus memperkuat praktik keberlanjutan melalui transfer teknologi dan pelatihan bagi petani serta koperasi.
Meski Indonesia telah memiliki skema perdagangan karbon nasional, metodologi khusus untuk sektor sawit hingga kini belum tersedia. Untuk itu, Bappenas berkomitmen mendukung penyusunan metodologi pengurangan emisi yang dirancang khusus bagi industri sawit. “Nota kesepahaman ini akan mendukung pengembangan metodologi pengurangan emisi karbon yang terstandar dan sesuai dengan pasar karbon global,” jelas Siliwanti, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Inovasi Pendanaan Pembangunan.
Ke depan, koordinasi antara Bappenas dan CSES akan terus diperkuat guna memastikan proses penandatanganan nota kesepahaman serta pelaksanaan kerja sama berjalan efektif. Melalui kemitraan ini, Indonesia berharap dapat mengembangkan kemampuan inovatif dan teknologi hijau untuk mendukung pembangunan rendah emisi.
BACA JUGA: Dari Mandiri Menjadi Mitra, Petani Sawit Menuju Kemakmuran Berkelanjutan
“Penerapan teknologi rendah emisi akan menekan emisi karbon sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan nasional melalui perdagangan kredit karbon, di mana China berpotensi menjadi pembeli utama,” pungkas Teni Widuriyanti. (T2)
