InfoSAWIT, JAMBI — Bagi petani kelapa sawit, merawat kebun bukan sekadar soal panen hari ini, tetapi juga tentang menanam harapan bagi masa depan keluarga. Melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), petani kini mendapat dukungan nyata berupa pendanaan, bibit unggul, dan pelatihan teknis yang membantu meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki kesejahteraan.
Salah satu kisah sukses datang dari Sukasno, petani kelapa sawit asal Desa Meranti, Jambi, yang telah menggeluti perkebunan sawit sejak 1991. Lewat kemitraan bersama PT Kresna Duta Agroindo (KDA) melalui program PSR, kehidupannya berubah signifikan. Sebelumnya, Sukasno harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Namun, ketika pohon sawitnya menua dan hasil panen menurun, ia menghadapi dilema besar: biaya peremajaan tinggi dan kehilangan pendapatan selama masa tunggu pohon baru berbuah.
Harapan baru muncul ketika Gapoktan Sumber Urip, kelompok tani tempat Sukasno bergabung, menjalin kemitraan dengan PT KDA. Program PSR ini selaras dengan inisiatif keberlanjutan Sinar Mas Agribusiness and Food melalui kerangka Collective for Impact, yang menargetkan pelatihan bagi 100.000 petani kecil hingga tahun 2035. Lewat sosialisasi bersama perusahaan dan pemerintah, para petani mengetahui adanya dukungan finansial hingga Rp50 juta untuk setiap 2 hektar lahan yang diremajakan.
“Awalnya saya ragu, tapi setelah dijelaskan bahwa dana PSR bukan pinjaman, saya mulai yakin. Apalagi setelah melihat keseriusan perusahaan dalam mendampingi petani,” ungkap Sukasno, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (16/10/2025).
Tak hanya mendapat bantuan dana, Sukasno juga memperoleh ilmu baru tentang Good Agricultural Practices (GAP) — mulai dari teknik menanam bibit sawit unggul, pengaturan jarak tanam, hingga pemupukan yang tepat waktu dan sesuai dosis. Ia juga mempelajari teknik tumbang ciping, yaitu pemotongan batang sawit menjadi bagian kecil agar lebih mudah dikelola dan bermanfaat sebagai bahan organik alami.
Hasilnya pun nyata. Jika dulu Sukasno hanya memanen sekitar 600–700 kilogram per plot, kini hasilnya meningkat menjadi 1.200–1.400 kilogram per panen. “Dulu kami memupuk seadanya tanpa tahu takaran yang tepat. Sekarang, dengan bimbingan rutin dari asisten lapangan, hasil kebun kami jauh lebih baik,” ujarnya dengan senyum bangga.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Cenderung Stagnan pada Rabu (15/10), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Cerita serupa juga datang dari Suwarno, Ketua Gapoktan Sumber Urip. Ia mulai melakukan peremajaan pada tahun 2020 dan kini telah menyelesaikan tiga tahap. Menurutnya, keuntungan terbesar dari program PSR adalah akses ke bibit unggul Dami Mas serta pendampingan teknis terstruktur yang mencakup penyiapan lahan, jadwal pemupukan, dan monitoring rutin.
Gapoktan Sumber Urip juga memperluas kegiatan dengan intercropping — menanam tanaman pangan seperti padi gogo dan sayuran di sela-sela kebun sawit muda. Kegiatan ini didukung oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, yang memberikan pelatihan serta membantu petani memperoleh penghasilan tambahan sambil menunggu sawit baru berproduksi.
