Kompleks pasar soybean juga mengalami perubahan besar, terutama setelah fleksibilitas kembali muncul dalam hubungan dagang antara AS dan China. Hal ini memicu koreksi harga kedelai dan berpotensi menurunkan harga bungkil yang sangat dibutuhkan negara-negara pengimpor.
Kabar baik datang dari kebijakan impor GMO soybean yang mulai diberlakukan kembali di sejumlah negara mulai Januari 2025. Rasheed mengatakan, “Ini sinyal positif. Pakistan selama ini membayar sangat mahal karena harus mencari pasokan non-GMO dengan rantai pasok yang jauh lebih rumit.”
Menurut Rasheed, koreksi harga sawit satu bulan terakhir telah cukup dalam, dan pasar kini “menunggu stabilitas baru” seiring memasuki musim perayaan dan penurunan produksi di kedua negara produsen utama.
BACA JUGA: IPOC 2025: EBTKE Pastikan Pengujian B50 Berjalan Transparan
Ketidakpastian terbesar tetap berada pada kebijakan B50 Indonesia. “Kenaikan bauran biodiesel masih belum pasti. Jika terealisasi, dampaknya akan signifikan terhadap pasar global,” tegasnya.
Proyeksi Harga: CPO Berpotensi Menguat Tipis
Dalam paparannya, Rasheed memproyeksikan harga minyak sawit di Bursa Malaysia akan bergerak dalam kisaran, RM 4.100–4.300 per ton untuk periode Desember 2025–Januari 2026 dan RM 4.200–4.500 per ton untuk periode Januari–Maret 2026.
Ia menutup sesinya dengan sebuah kutipan, meski belum membacakan sepenuhnya kepada peserta konferensi. Namun, pesan yang ingin ia tekankan jelas: pasar minyak sawit memasuki fase koreksi menuju stabilitas, namun ketidakpastian kebijakan dan geopolitik tetap menjadi faktor penentu utama pergerakan harga dalam beberapa bulan ke depan. (T2)
