InfoSAWIT, NUSA DUA — Optimisme besar terhadap penguatan harga minyak sawit global kembali mengemuka dalam Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Price Outlook 2026. Dorab Mistry, Director Godrej International Ltd., memaparkan serangkaian faktor yang menurutnya akan membawa industri sawit memasuki fase bullish sepanjang 2026. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan momentum positif sangat bergantung pada peran pemerintah, terutama Indonesia.
Mistry membuka paparannya dengan gambaran sederhana tentang kondisi fundamental pasar minyak nabati global: produksi stagnan, permintaan terus meningkat.
“Harga oilseed pada tingkat saat ini tidak menarik. Petani di seluruh dunia tidak bahagia dan tidak mendapat keuntungan. Penanaman oilseed stagnan di hampir semua negara,” ujarnya dalam acara yang dihadiri InfoSAWIT tersebut. “Produksi sawit juga flat, produktivitas menurun, sementara biodiesel terus tumbuh karena subsidi yang baik dan dorongan lingkungan.”
BACA JUGA: IPOC 2025: Perbaiki Persepsi, Bangun Kepercayaan—Palm Oil Harus Menang dalam “Lomba Global” Reputasi
Situasi ini, menurut Mistry, menjadi fondasi dari skenario bullish. “Jika produksi datar dan permintaan naik, logikanya harga harus bergerak lebih tinggi.”
Menurut Mistry, sektor pertanian di seluruh dunia menghadapi masalah serupa: pemerintah tidak benar-benar mendorong pertumbuhan.
“Tidak ada negara yang sungguh-sungguh mendorong pertanian untuk menyejahterakan petani. Semua hanya simpati di bibir,” katanya.
BACA JUGA: Menteri PPN: Sawit Bukan Sekadar Komoditas, tapi Jembatan Persahabatan dan Kemanusiaan
Ia secara khusus menyoroti Indonesia dan Malaysia, dua produsen sawit terbesar dunia, yang menurutnya masih memberlakukan kebijakan yang bisa memperlambat perkembangan industri.
“Industri ini telah membawa kemakmuran besar. Indonesia harus mendorong pertumbuhan perkebunan, bukan menahan dengan kebijakan penyitaan lahan atau hambatan lain,” ujarnya, sembari menyebut bahwa pemerintah harus menggunakan instrumen seperti pajak ekspor alih-alih kebijakan yang “membawa industri mundur.”
Harga Minyak Mentah Terlalu Rendah, Perubahan Bisa Datang Tahun Depan
Mistry memandang harga minyak mentah global sebagai faktor penting yang memengaruhi harga CPO. Ia menyebut kebijakan energi Pemerintahan Trump yang mendorong peningkatan produksi minyak membuat harga jatuh.
