“Menurut saya, tahun depan negara-negara OPEC tidak lagi mengikuti dorongan produksi itu. Harga minyak mentah akan naik,” katanya.
Kenaikan harga minyak mentah bakal menjadi katalis tambahan bagi penguatan harga sawit, apalagi mandat biodiesel dan sustainable aviation fuel (SAF) di banyak negara terus berkembang.
Kebijakan The Fed dan Dolar AS Akan Menentukan Arah Pasar
Mistry juga menyoroti arah kebijakan moneter AS. Menurutnya, pemerintahan Trump kemungkinan akan menekan Federal Reserve untuk terus menurunkan suku bunga hingga mendekati nol dan bahkan membuka peluang dimulainya kembali quantitative easing (QE).
BACA JUGA: IPOC 2025: Kementan Gaspol Hilirisasi Sawit, Target Produksi 100 Juta Ton di 2045
“Kebijakan ini akan memengaruhi harga komoditas, termasuk minyak sawit,” ujarnya.
Pasar Oversold, Kenaikan Harga CPO Diprediksi Dimulai Akhir November
Menurut Mistry, pasar minyak sawit saat ini sedang berada dalam kondisi oversold, dengan investor dana keluar dari pasar dan menekan harga kontrak.
“Kelemahan ini akan bertahan sampai produksi benar-benar menurun. Kita akan tahu di akhir November,” katanya.
Jika tanda penurunan produksi muncul, ia memprediksi harga kontrak ketiga Bursa Malaysia Derivatives (BMD) akan mulai naik tajam.
BACA JUGA: KPK Perkuat Pengawasan Tata Kelola Sawit di Gorontalo, Dorong Transparansi dan Kepastian Usaha
Ia memberikan proyeksi konkret, 5.000 ringgit per ton pada akhir Desember 2025 dan 5.500 ringgit per ton untuk periode Januari–Maret 2026
Pergerakan bullish akan semakin kuat jika Indonesia menyesuaikan DMO atau melanjutkan kebijakan B50.
“Pemerintah Indonesia memegang kunci. Jika ekspor dibatasi, futures akan langsung terbang,” ujarnya. (T2)
