Produksi Sawit Global Diprediksi Stagnan pada 2026, Sejumlah Faktor Menghambat Pertumbuhan

oleh -3.720 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. SawitFest 2021/foto: Fitra Yogi/Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit.

InfoSAWIT, BALI — Pertumbuhan produksi minyak sawit global diperkirakan tidak mengalami peningkatan signifikan pada 2026. Sejumlah faktor mulai dari dampak cuaca La Niña, tingginya biaya pupuk, hingga lambatnya peremajaan tanaman disebut menjadi penyebab utama mandeknya produksi komoditas strategis tersebut.

Proyeksi itu disampaikan Direktur Strategi dan Kebijakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Chandran Gunalan, di sela-sela konferensi industri sawit yang berlangsung di Bali, pertengahan November 2025 lalu.

Menurut Chandran, produksi minyak sawit dunia tahun depan diperkirakan berada di kisaran 82 juta ton, relatif sama dengan capaian tahun ini. Angka tersebut hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan produksi 2024 yang sekitar 79 juta ton.

BACA JUGA: Produksi Sawit Turun Tajam pada September 2025, Ekspor Merosot, Stok Kembali Menebal

 

La Niña dan Pohon Tua Menjadi Tantangan

Chandran menjelaskan bahwa kekuatan fenomena La Niña akan menjadi penentu utama naik atau turunnya produksi sawit global. Kondisi cuaca basah tersebut dapat menghambat proses panen di berbagai wilayah produsen.

Selain itu, meningkatnya jumlah pohon sawit berusia lebih dari 25 tahun di Malaysia, serta lambatnya program replanting di Indonesia, turut mempersempit ruang pertumbuhan produksi. Pohon-pohon tua dikenal menghasilkan tandan buah segar yang jauh lebih sedikit sehingga menekan produktivitas secara keseluruhan.

Sebagai dua produsen utama dunia, Indonesia dan Malaysia diperkirakan juga tidak mencatat lompatan produksi berarti tahun depan.

BACA JUGA: GAR Perkuat Posisi sebagai Pemimpin Keberlanjutan Asia, Anita Neville Beberkan Filosofi di Balik Dua Penghargaan ASRA

Chandran memperkirakan produksi Indonesia berada di kisaran 50 juta ton, sementara Malaysia sekitar 20 juta ton pada 2026.

Salah satu faktor yang menekan produktivitas adalah melonjaknya harga pupuk dalam dua tahun terakhir, yang menyebabkan sebagian petani mengurangi penggunaannya. “Pengurangan aplikasi pupuk tentu akan berpengaruh pada hasil panen,” ujarnya, dilansir InfoSAWIT dari Bloomberg, Sabtu (29/11/2025),

Selain persoalan teknis budidaya, Chandran juga menyoroti minimnya aktivitas di perkebunan sawit yang disita pemerintah Indonesia. Ia memperingatkan bahwa aset-aset tersebut berpotensi menjadi lahan tidur jika tidak segera ditangani secara terstruktur.

BACA JUGA: Kementan Terbitkan Aturan Baru ISPO, Perketat Kewajiban Sertifikasi dan Prioritaskan Dukungan bagi Pekebun

Sementara negara-negara produsen utama di Asia menghadapi stagnasi, kawasan Amerika Latin menunjukkan tren sebaliknya. Ekspansi perkebunan di wilayah tersebut membuat produksi meningkat secara bertahap.

Untuk tahun ini, produksi Kolombia diperkirakan mencapai 2 juta ton, naik dari 1,9 juta ton pada tahun sebelumnya.

Di tengah tantangan produksi, CPOPC terus melakukan diplomasi internasional. Chandran menyampaikan bahwa pejabat CPOPC telah bertemu dengan anggota Parlemen Uni Eropa dan pembuat kebijakan Eropa guna membahas penerapan regulasi deforestasi EUDR.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 28 November – 4 Desember 2025 Naik Rp 9,15 per Kg

Salah satu fokus utama adalah bagaimana agar petani kecil dapat lebih mudah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam regulasi tersebut. (T2)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com