InfoSAWIT, SANGATTA — Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-80 di Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Selasa pagi (25/11/2025), menghadirkan suasana penuh haru sekaligus kebanggaan. Upacara ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan guru serta penghormatan bagi para pahlawan tanpa tanda jasa yang mendedikasikan hidupnya bagi dunia pendidikan.
Dipimpin langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, rangkaian acara diwarnai dengan penyerahan Penghargaan Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Kutim. Dari sejumlah nama yang menerima penghargaan, perhatian publik tersedot pada sosok Sri Lasri Yohana Situmeang, guru TK Anugrah Abadi I Bengalon, yang berhasil meraih dua gelar bergengsi sekaligus. Ia dinobatkan sebagai Guru Berdedikasi serta Juara Kategori GTK Dedikasi Jenjang PAUD/Dikdas Tingkat Nasional Tahun 2024, dan bahkan terpilih sebagai GTK Hebat Terfavorit pada Jambore GTK yang digelar Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud RI.
Pencapaian Yohana—sapaan akrabnya—di balik itu tersimpan cerita panjang tentang kegigihan. Penghargaan nasional yang ia raih berawal dari konsistensinya mendokumentasikan seluruh kegiatan mengajarnya sebagai bukti dedikasi yang ia persembahkan untuk anak-anak PAUD di daerah pelosok.
BACA JUGA: Produksi Sawit Turun Tajam pada September 2025, Ekspor Merosot, Stok Kembali Menebal
“Penghargaan ini saya dapatkan karena saya mendokumentasikan setiap kegiatan yang saya lakukan, yang merupakan dedikasi saya dalam mengajar di PAUD,” ujarnya dilansir InfoSAWIT dari Pemkab Kutai Timur, Sabtu (29/11/2025).
Yohana mengisahkan kesehariannya harus melewati perjalanan ekstrem setiap kali berangkat mengajar. Ia melintasi jalanan kebun sawit sejauh berkilometer, dengan kondisi yang berubah menjadi tantangan tersendiri sesuai musim.
“Saat musim hujan, jalanan berubah menjadi lumpur tebal. Saat kemarau, debu sangat pekat. Bahkan kadang saya terpeleset atau jatuh dari motor karena medan menuju sekolah benar-benar berat,” tutur Yohana dengan mata berkaca-kaca.
Namun semua kesulitan itu tak pernah menyurutkan langkahnya. Penghargaan yang ia terima menjadi bukti bahwa perjuangnya tidak sia-sia.
“Saya berterima kasih banyak atas penghargaan ini. Ini menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah sangat menghargai jasa guru-guru di Kutim,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan pesan penuh kehangatan kepada para muridnya, yang selama ini menjadi sumber semangat.
“Terima kasih kepada anak-anak murid saya. Kalian adalah alasan saya tetap berjuang untuk datang mengajar, meski harus melewati jalanan yang sulit.”
Sebelumnya, Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada peningkatan kualitas pendidikan, mulai dari penyediaan beasiswa, peningkatan insentif, hingga pengurangan beban administrasi guru.
Kisah Sri Lasri Yohana Situmeang menjadi gambaran nyata bahwa dedikasi seorang guru tidak mengenal batas. Di tengah keterbatasan fasilitas dan tantangan medan, semangatnya tak pernah padam. Pemerintah Kabupaten Kutim pun menegaskan komitmennya untuk terus berdiri di belakang para pendidik yang bekerja tanpa lelah demi masa depan generasi bangsa. (T2)
