InfoSAWIT, JAKARTA — Memasuki awal 2026, pergerakan harga karet global diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi, dengan kecenderungan bergerak stabil hingga menguat secara bertahap. Penguatan harga yang terjadi pada akhir Desember 2025 dinilai menjadi modal psikologis yang positif bagi pasar, meski pelaku usaha tetap dihadapkan pada dinamika global yang menuntut kehati-hatian.
Ketua DPW APKARINDO Sumatera Selatan Supartijo menilai, pasar karet di awal tahun belum menunjukkan sinyal lonjakan tajam, namun memiliki fondasi yang cukup untuk menjaga stabilitas harga.
“Pasar masih bergerak hati-hati pasca penutupan tahun. Namun penguatan harga di akhir 2025 memberi sentimen awal yang relatif positif,” ujar Supartijo dalam keterangannya ditulis InfoSAWIT, Sabtu (3/1/2026).
BACA JUGA: Label “No Palm Oil” Dinilai Menyesatkan, Asosiasi Pangan India Peringatkan Konsumen
Faktor Penopang Awal Tahun
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menjaga harga karet tetap stabil pada awal 2026. Di antaranya adalah mulai pulihnya permintaan industri setelah libur akhir tahun, penyesuaian pasokan dari negara-negara produsen utama, serta pergerakan nilai tukar yang relatif terkendali.
Selain itu, harga penutupan akhir 2025 yang berada pada level cukup kuat turut menjadi penopang psikologis pasar. “Faktor-faktor ini memang belum cukup untuk mendorong lonjakan tajam, tetapi setidaknya mampu menahan harga agar tidak tertekan signifikan,” jelasnya.
Dinamika Global Masih Membayangi
Meski demikian, Supartijo mengingatkan bahwa sentimen positif tersebut tetap harus diimbangi dengan kewaspadaan. Pasar karet global masih akan dipengaruhi fluktuasi nilai tukar internasional, arah kebijakan ekonomi negara-negara besar, serta perkembangan permintaan dari sektor otomotif dan manufaktur.
BACA JUGA: Harga Sawit Turun ke Level Terendah Dua Pekan, Tertekan Pelemahan Minyak Mentah dan Ekspor Malaysia
“Naik-turun harga masih akan terjadi, terutama pada awal kuartal pertama. Ini bagian dari penyesuaian pasar,” katanya.
Arah Pasar Dinilai Lebih Sehat
Secara keseluruhan, Supartijo menilai arah pergerakan harga karet di awal 2026 cenderung lebih sehat dibandingkan periode awal 2025. Harga berpotensi bergerak stabil hingga menguat perlahan, meski koreksi wajar masih mungkin terjadi dalam jangka pendek.
“Lonjakan tajam belum menjadi skenario utama. Tapi dibanding awal tahun lalu, kondisi pasar saat ini relatif lebih terkendali,” ujarnya.
BACA JUGA: Nestlé Buka Peta Risiko Deforestasi Sawit, Pantau Rantai Pasok Global via Satelit Sejak 2019
Ia menegaskan, proyeksi tersebut disusun berdasarkan pola pergerakan harga di akhir 2025 dan dinamika pasar global, bukan sebagai ajakan spekulasi. “Yang terpenting, petani dan pelaku usaha tetap mencermati perkembangan pasar dan tidak terbawa euforia,” pungkas Supartijo. (T2)




















