InfoSAWIT, KARACHI — Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa minyak sawit tetap menjadi tulang punggung ekspor Indonesia ke Pakistan sekaligus fondasi penting hubungan dagang kedua negara. Namun demikian, Indonesia juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dan strategis di luar sektor sawit, termasuk pembentukan usaha patungan (joint venture) di bidang pemurnian dan pengolahan (refining and processing).
Pernyataan tersebut disampaikan Wamendag Roro saat menjadi pembicara utama pada pembukaan Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) ke-8 di Karachi, Pakistan, Sabtu (10/1). Acara bergengsi industri minyak nabati Pakistan itu turut dihadiri Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan, CEO PEOC Rasheed Jan Mohammad, serta Ketua Pakistan Vanaspati Manufacturers Association (PVMA) Umer Rehan.
Menurut Wamendag Roro, peluang kerja sama Indonesia–Pakistan tidak hanya terbatas pada perdagangan minyak sawit mentah, tetapi juga mencakup investasi di sektor logistik, penyimpanan, dan infrastruktur pelabuhan. Selain itu, terbuka ruang kolaborasi pada minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari, hingga kerja sama sertifikasi halal dan harmonisasi standar.
BACA JUGA: Genom Sawit Terbuka: Riset IPB–BPDP Ungkap Harta Karun Genetik untuk Sawit Tangguh Masa Depan
“Sektor-sektor ini memiliki potensi besar untuk mendorong penciptaan nilai tambah, alih teknologi, serta pembukaan lapangan kerja di kedua negara,” ujar Wamendag Roro dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Senin (12/1/2026).
Indonesia, lanjutnya, memahami bahwa kemitraan dagang jangka panjang hanya dapat terwujud jika ditopang oleh keandalan, transparansi, dan keberlanjutan. Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia berkomitmen memperkuat produksi sawit berkelanjutan melalui perlindungan lingkungan, penegakan hukum, serta tata kelola yang menjaga kelestarian hutan, masyarakat, dan keanekaragaman hayati.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan sistem sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), peningkatan keterlacakan (traceability), modernisasi industri, serta dukungan berkelanjutan bagi petani kecil agar pertumbuhan sektor sawit berlangsung inklusif di sepanjang rantai nilai.
BACA JUGA: Pasar Global Menyambut Akhir Pekan: Saham Asia Menguat, Wall Street Tenang
Wamendag Roro menegaskan bahwa berbagai inisiatif keberlanjutan ini tidak dimaksudkan sebagai hambatan perdagangan, melainkan untuk memastikan minyak sawit Indonesia tetap kompetitif, bertanggung jawab, dan dapat diterima di pasar global. Dalam konteks Pakistan, Indonesia berkomitmen menjadi pemasok minyak sawit yang stabil dan andal di tengah dinamika pasar global.
“Indonesia berupaya memastikan kebutuhan minyak sawit Pakistan dapat terpenuhi secara konsisten, terprediksi, dan transparan dalam jangka panjang,” katanya.
Di sisi lain, Indonesia juga mendorong hubungan dagang yang lebih seimbang dan terdiversifikasi. Pemerintah Indonesia menyambut peningkatan ekspor Pakistan ke Indonesia, mulai dari produk tekstil dan garmen, produk pertanian, pangan olahan, hingga jasa teknologi informasi yang pada 2025 tercatat mencapai USD 3,49 miliar.
BACA JUGA: Menepis Mitos Saatnya Membangun Citra Sawit
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, Pakistan merupakan tujuan ekspor minyak sawit terbesar ketiga Indonesia setelah Tiongkok dan India, dengan nilai ekspor mencapai USD 2,77 miliar pada 2025. Capaian tersebut mencerminkan kepercayaan Pakistan terhadap keandalan pasokan, kualitas produk, serta daya saing minyak sawit Indonesia.
Minyak sawit juga menjadi minyak nabati paling banyak dikonsumsi di Pakistan, dengan kebutuhan domestik hampir mencapai 3–4 juta metrik ton pada 2025. Konsumsi ini menopang berbagai sektor industri, mulai dari pangan olahan hingga oleokimia, sabun, dan deterjen.
