InfoSAWIT, JAKARTA – Di balik pertumbuhan ekspor sawit ke India, muncul tuntutan baru: keberlanjutan. Melalui pengakuan ISPO dan kerangka kerja IPOSF, Indonesia berupaya memastikan bahwa sawit bukan hanya soal volume, tetapi juga tentang masa depan perdagangan hijau.
India tetap menjadi salah satu pasar paling krusial bagi ekspor minyak sawit Indonesia. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menegaskan bahwa meski kontribusi sawit terhadap total ekspor nasional sempat turun dari 15 persen pada 2021 menjadi 10 persen di 2024, tren pada 2025 kembali menunjukkan kenaikan hingga 13 persen. Angka ini membuktikan peran sawit yang masih dominan dalam menjaga neraca perdagangan Indonesia.
Namun, di balik capaian tersebut, Eddy menyoroti adanya tantangan serius, baik dari sisi produksi maupun dinamika pasar internasional. Produksi sawit Indonesia, misalnya, stagnan di kisaran 52–54 juta ton dalam dua tahun terakhir, sementara konsumsi domestik terus meningkat. Bahkan, penggunaan sawit untuk energi melalui biodiesel kini telah melampaui konsumsi untuk pangan.
BACA JUGA: India Pasang Rem Dagang Pertanian dengan AS, Kedelai dan Jagung Dikecualikan
India, dengan konsumsi minyak nabati yang mencapai sekitar 25 juta ton per tahun, tidak mampu mengandalkan produksi domestiknya. Negeri Bollywood ini hanya menghasilkan sekitar 11,2 juta ton minyak nabati, sehingga kebutuhan sisanya harus dipenuhi dari impor. Dari total impor 16,88 juta ton, hampir 9 juta ton berupa minyak sawit.
Indonesia menjadi pemasok utama, dengan ekspor ke India mencapai 4,4 juta ton pada 2024. Angka itu menempatkan Indonesia jauh di atas pesaingnya, Malaysia, Thailand, maupun Singapura. Meski demikian, kebijakan tarif impor India yang fluktuatif serta faktor harga global sering kali memengaruhi stabilitas permintaan. (T2)
