InfoSAWIT, JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 0,95 miliar, memperpanjang tren positif perdagangan nasional yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus US$ 3,23 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$ 2,27 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai konsistensi surplus ini menunjukkan ketahanan sektor perdagangan Indonesia di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
“Surplus pada Januari 2026 memperpanjang tren surplus Indonesia menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Konsistensi surplus mencerminkan daya tahan sektor perdagangan nasional di tengah ketidakpastian global,” ujar Budi Santoso dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (6/3/2026).
BACA JUGA: Produksi TBS Naik 2% dan CPO Tumbuh 4%, IndoAgri Siapkan Ekspansi Kilang 450 Ribu MT per Tahun
Berdasarkan negara mitra dagang, surplus terbesar Indonesia pada Januari 2026 berasal dari Amerika Serikat sebesar US$ 1,55 miliar, diikuti India US$ 1,07 miliar, serta Filipina US$ 0,69 miliar. Sementara itu, defisit perdagangan terbesar tercatat dengan Tiongkok sebesar US$ 2,47 miliar, disusul Australia US$ 0,96 miliar, dan Prancis US$ 0,47 miliar.
Ekspor Industri Pengolahan Masih Mendominasi
Secara keseluruhan, total ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$ 22,16 miliar, meningkat 3,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan ini terutama didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 4,38 persen (YoY) menjadi US$ 21,26 miliar, dari sebelumnya US$ 20,37 miliar.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 4 – 10 Maret 2026 Naik Rp21,18 per Kg
Struktur ekspor Indonesia masih didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 83,53 persen terhadap total ekspor nasional. Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya menyumbang 10,48 persen, migas 4,03 persen, dan sektor pertanian 1,97 persen.
Pertumbuhan ekspor nonmigas pada awal tahun ini terutama ditopang oleh meningkatnya ekspor industri pengolahan yang naik 8,19 persen secara tahunan. Sebaliknya, ekspor dari sektor pertanian turun 20,36 persen, sementara sektor pertambangan dan lainnya turun 14,59 persen dibandingkan Januari 2025.
Ekspor Lemak dan Minyak Hewani–Nabati Menguat
Di antara komoditas nonmigas, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15)—yang di dalamnya termasuk minyak sawit dan berbagai produk turunannya—menjadi salah satu komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada awal 2026.
BACA JUGA: Pendapatan Melonjak 29%, Laba Bersih Kencana Agri Tumbuh 54% di 2025
“Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya (HS 80) yang naik 191,38 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) naik 46,05 persen, serta nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 42,04 persen (YoY). Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional,” kata Budi.
Komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati, termasuk minyak sawit dan minyak inti sawit (palm kernel oil), menjadi salah satu kontributor penting dalam ekspor industri pengolahan Indonesia.
Mengacu pada World Bank Commodity Price Data, harga beberapa komoditas utama juga mengalami peningkatan signifikan pada Januari 2026. Harga timah melonjak 67,29 persen, nikel naik 15,42 persen, sementara minyak kernel kelapa sawit meningkat 8,36 persen dibandingkan Januari 2025.
