InfoSAWIT, BOGOR – Upaya memperkuat produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional terus dilakukan melalui berbagai langkah strategis, salah satunya dengan eksplorasi serangga penyerbuk alami dari luar negeri. Sejak awal 2025, para pemangku kepentingan industri sawit melakukan penelitian di Tanzania, negara dengan karakter agroklimat yang dinilai mirip dengan Indonesia.
Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Agus Eko Prasetyo, mengungkapkan bahwa eksplorasi dilakukan secara komprehensif di berbagai wilayah dengan kondisi lingkungan yang beragam.
“Eksplorasi dilakukan di lima region, tiga distrik, dan lima titik sampling, mencakup daerah dengan curah hujan rendah hingga di atas 2.000 mm per tahun, serta ketinggian dari dataran rendah hingga lebih dari 1.700 mdpl,” ujarnya kepada InfoSAWIT.
BACA JUGA: Prabowo Bangga Sawit Jadi Energi Strategis, Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia
Penelitian tersebut berlangsung selama tiga bulan, sejak 5 Januari hingga 3 April 2025.
Temuan Keanekaragaman Kumbang Penyerbuk
Hasil eksplorasi menunjukkan keanekaragaman tinggi serangga penyerbuk alami kelapa sawit, khususnya dari genus Elaeidobius. Secara morfologis, tim peneliti menemukan tujuh spesies, dengan tiga di antaranya mendominasi, yaitu Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius bilineatus, dan Elaeidobius plagiatus.
Selain itu, spesies lain yang turut teridentifikasi meliputi Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius singularis, Elaeidobius spatulifer, dan Elaeidobius piliventris.
BACA JUGA: Indonesia Perkuat Fondasi Genetik Sawit, 83 Varietas Unggul Disiapkan Hadapi Tantangan Masa Depan
Menariknya, E. subvittatus tercatat sebagai spesies dengan ukuran paling kecil, sementara E. kamerunicus—yang selama ini telah dikenal luas di Indonesia—memiliki ukuran paling besar di antara spesies yang ditemukan.
Efektivitas Tinggi Penyerbukan Alami
Agus menjelaskan bahwa tingkat keberhasilan penyerbukan alami di lokasi eksplorasi tergolong sangat tinggi. Hal ini tercermin dari capaian fruit set yang melampaui 73 persen.
“Rata-rata fruit set hasil penyerbukan alami di lokasi eksplorasi mencapai lebih dari 73 persen. Ini menunjukkan efektivitas kumbang penyerbuk di Tanzania sangat tinggi,” jelasnya.
BACA JUGA: Dugaan Fraud POME Seret Rantai Pasok Global, Nama Eni dan Neste Ikut Terseret
Aktivitas kumbang Elaeidobius juga terpantau berlangsung sepanjang hari, dengan intensitas tertinggi pada bunga jantan yang sedang anthesis serta bunga betina yang reseptif, terutama pada pagi dan sore hari.
Temuan ini membuka peluang besar bagi peningkatan produktivitas sawit nasional melalui optimalisasi peran penyerbuk alami. Dengan karakter agroklimat yang serupa, spesies dari Tanzania dinilai berpotensi beradaptasi di Indonesia, meski tetap harus melalui kajian lanjutan dan prosedur karantina ketat. (T2)
