InfoSAWIT, KARACHI – Eskalasi konflik global yang melibatkan Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas energi dan ketahanan pangan dunia. Penutupan efektif Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis global, disebut telah mendorong harga minyak ke level berbahaya sekaligus mengganggu rantai pasok pupuk internasional.
Ketua Exchange Companies Association of Pakistan (ECAP), Malik Muhammad Bostan, menegaskan bahwa dampak dari terganggunya jalur distribusi ini jauh melampaui sektor energi.
“Gangguan pada jalur ini bukan sekadar krisis energi, tetapi ancaman langsung terhadap sektor pertanian global,” ujarnya, dilansir InfoSAWIT dari Business Recoreder, Minggu (22/3/2026).
BACA JUGA: Bos Djarum, Michael Bambang Hartono Tutup Usia, Tinggalkan Jejak Bisnis Hingga Sektor Sawit
Gangguan Pasokan Pupuk Ancam Produksi Pangan
Bostan menjelaskan bahwa kawasan Teluk merupakan pemasok utama urea dan berbagai pupuk penting bagi negara-negara besar seperti China, Amerika Serikat, Australia, hingga Indonesia.
Dengan musim tanam yang tengah berlangsung di belahan bumi utara, terganggunya distribusi pupuk berpotensi menurunkan produktivitas komoditas pangan utama seperti gandum, padi, jagung, dan kedelai.
Kondisi ini dinilai dapat memperparah tekanan terhadap ketahanan pangan global, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan iklim.
BACA JUGA: Indonesia Perkuat Fondasi Genetik Sawit, 83 Varietas Unggul Disiapkan Hadapi Tantangan Masa Depan
Dampak Ekonomi dan Lonjakan Inflasi
Di tingkat domestik, ECAP memperingatkan bahwa blokade berkepanjangan dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian Pakistan. Biaya impor minyak berpotensi melonjak hingga tiga kali lipat, yang pada akhirnya mendorong inflasi ke kisaran 15% hingga 17%.
Meski demikian, Bostan mengapresiasi langkah proaktif pemerintah Pakistan, termasuk peran Pakistan National Shipping Corporation (PNSC) dalam menjaga kelangsungan distribusi energi nasional di tengah ketegangan maritim.
Ia juga mendorong pelaku usaha untuk memprioritaskan penggunaan layanan pelayaran nasional guna mengurangi ketergantungan pada operator asing dan memperkuat kemandirian logistik.
Lebih lanjut, Bostan menilai konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menyoroti tingginya risiko instabilitas kawasan terhadap perdamaian global.
Ia mencatat adanya peningkatan tekanan domestik di Amerika Serikat terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mendorong upaya gencatan senjata.
Di sisi lain, krisis ini juga dinilai memberi ruang bagi Iran untuk menunjukkan ketahanan strategisnya sebagai kekuatan regional.
BACA JUGA: Prabowo Bangga Sawit Jadi Energi Strategis, Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia
Menutup pernyataannya, Bostan menyerukan langkah diplomasi segera untuk meredakan konflik, sekaligus mendesak pemerintah Pakistan menyiapkan strategi mitigasi guna melindungi ekonomi nasional dari guncangan energi global yang semakin dalam. (T2)
