InfoSAWIT, JAKARTA – Tren produk berlabel bebas minyak sawit atau biasa disebut “palm oil-free” yang semakin populer di pasar global dinilai tidak selalu sejalan dengan upaya perlindungan lingkungan. Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa menggantikan minyak sawit dengan komoditas lain berpotensi memperluas tekanan terhadap lahan dan memperparah deforestasi.
Melansir tulisan Douglas Sheil, profesor di Wageningen University yang dipublikasikan di The Conversation, dikutip InfoSAWIT Kamis (26/3/2026), minyak sawit merupakan salah satu komoditas paling efisien dalam menghasilkan minyak nabati.
Berdasarkan kajian IUCN Oil Crop Task Force serta analisis industri, minyak sawit mampu menghasilkan empat hingga sepuluh kali lebih banyak minyak per hektare dibandingkan kedelai atau bunga matahari.
BACA JUGA: Krisis Tenaga Kerja Mengintai Industri Sawit, Model Lama Dinilai Kehilangan Daya Tarik
“Penggantian minyak sawit justru dapat meningkatkan kebutuhan lahan dan memicu deforestasi di wilayah lain,” tulis Sheil.
Risiko “Deforestasi Terselubung”
Sheil mengingatkan bahwa boikot terhadap minyak sawit tanpa pendekatan berbasis data berisiko menimbulkan “deforestasi terselubung” (displaced deforestation), yakni perpindahan tekanan pembukaan lahan ke komoditas lain.
Menurutnya, persoalan keberlanjutan tidak semata ditentukan oleh jenis komoditas, melainkan oleh praktik pengelolaannya. “Batas antara pertanian ‘baik’ dan ‘buruk’ jarang terletak pada komoditasnya, tetapi pada bagaimana sistem itu dijalankan,” jelasnya.
BACA JUGA: Deforestasi Tak Tersurat di ISPO, Temuan Papua Barat Daya Soroti Celah Sertifikasi Sawit
Dalam analisis terhadap tiga jaringan supermarket besar di Barat pada 2025, ditemukan bahwa minyak sawit hanya tercantum secara eksplisit dalam sekitar 8% produk.
Namun, hingga 40% produk diperkirakan mengandung turunan minyak sawit yang tersembunyi di balik istilah umum seperti “emulsifier”. Kondisi ini menciptakan “kabut transparansi” yang menyulitkan konsumen untuk melacak asal-usul bahan baku secara akurat.
Tantangan Regulasi EUDR
Uni Eropa melalui kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) berupaya mengatasi persoalan ini dengan mewajibkan komoditas seperti sawit, kedelai, kakao, dan kopi bebas dari deforestasi.
BACA JUGA: Peran Barantin di Balik Introduksi Kumbang Sawit, Pastikan Keamanan Biosekuriti Nasional
Namun, implementasi kebijakan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk penundaan penerapan serta perbedaan standar antarnegara.
Bagi negara produsen seperti Indonesia, isu utama adalah keadilan dalam penerapan regulasi.
Sistem pemetaan berbasis satelit yang digunakan EUDR dinilai masih memiliki kelemahan, dengan risiko salah klasifikasi hingga 63% pada sistem agroforestri di Indonesia.
