InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk dunia modern yang terus bergerak cepat, kabar duka datang dari seorang perempuan yang justru memilih hidup jauh dari keramaian—di dalam hutan, bersama makhluk yang jarang dipahami manusia: orangutan.
Prof. Dr. Birute Mary Galdikas, tokoh konservasi dunia, meninggal dunia pada Selasa, 24 Maret 2026 di Los Angeles. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi dunia ilmu pengetahuan, tetapi juga bagi hutan-hutan tropis dan satwa yang selama puluhan tahun ia bela tanpa lelah.
Lahir di Wiesbaden, Jerman, pada 10 Mei 1946, Birute bukan sekadar ilmuwan. Ia adalah simbol dedikasi. Seorang perempuan yang memilih jalan sunyi demi menjaga kehidupan lain tetap bertahan.
BACA JUGA: Label “Bebas Minyak Sawit” Dipertanyakan, Studi Ungkap Risiko Deforestasi Tersembunyi
Sejak kecil, Birute telah memendam mimpi menjadi penjelajah. Mimpi itu membawanya bertemu dengan Dr. Louis Leakey, antropolog yang melihat potensi besar dalam dirinya.
Pertemuan itu menjadi titik balik. Bersama dua nama besar lain—Jane Goodall dan Dian Fossey—Birute menjadi bagian dari kelompok legendaris yang dikenal sebagai Leakey’s Angels, para peneliti kera besar dunia.
Namun, berbeda dengan rekannya yang meneliti simpanse dan gorila di Afrika, Birute memilih Indonesia. Tepatnya, hutan Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Sejak 1971, ia hidup di sana.
BACA JUGA: Deforestasi Tak Tersurat di ISPO, Temuan Papua Barat Daya Soroti Celah Sertifikasi Sawit
Hidup Bersama Orangutan
Lebih dari 50 tahun, Birute menghabiskan waktunya di Tanjung Puting—sebuah kawasan yang menjadi pusat penelitian ekologi orangutan liar dan tempat pelepasliaran orangutan sitaan.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan jauhnya dari kehidupan modern, Birute justru menemukan makna hidupnya.
Ia tidak sekadar meneliti. Ia hidup bersama mereka. Bahkan, demi dedikasinya, Birute memilih menjadi warga negara Indonesia. Sebuah keputusan yang menunjukkan bahwa cintanya pada orangutan dan hutan Borneo bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. “Orangutan merupakan saudara sepupu jauh dari manusia,” ujarnya dalam salah satu wawancara dengan InfoSAWIT, pada 2014 silam di Kalimantan Tengah.
BACA JUGA: Lonjakan Harga Minyak Dorong Daya Tarik Biodiesel, CPO Menguat di Tengah Ketegangan Global
Bagi Birute, orangutan bukan hanya satwa liar. Mereka adalah bagian dari keluarga besar kehidupan di bumi. Namun, perjuangan Birute tidak selalu mudah. Ia menyaksikan langsung bagaimana orangutan kerap dianggap hama oleh sebagian masyarakat. Diburu, diusir, bahkan kehilangan habitat akibat ekspansi manusia.
Padahal, menurutnya, keberadaan orangutan sangat penting dan dilindungi oleh undang-undang. “Keberadaan orangutan merupakan bagian penting dari kehidupan dan harus dilindungi,” ungkapnya.
