InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Kenaikan harga minyak mentah global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali meningkatkan daya tarik biodiesel berbasis kelapa sawit. Hal ini turut mendorong penguatan harga crude palm oil (CPO) di pasar internasional.
Dikutip InfoSAWIT dari The Edge Malaysia, Selasa (24/3/2026), analis menyebut lonjakan harga minyak mentah yang telah menembus level US$100 per barel menjadi faktor utama yang menopang harga CPO.
Menurut analis, kenaikan harga minyak mentah cenderung memperkuat harga minyak sawit melalui peningkatan keekonomian biodiesel. Harga diesel yang lebih tinggi membuat pencampuran biodiesel menjadi lebih menarik secara ekonomi.
BACA JUGA: IPB Kembangkan Teknologi EC+ untuk Olah Limbah Cair PKS, Dorong Industri Sawit Lebih Berkelanjutan
Momentum B50 dan Pengetatan Pasokan CPO
Kondisi ini dinilai berpotensi mempercepat implementasi kebijakan biodiesel B50 di Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia.
Peningkatan mandat biodiesel tersebut diperkirakan akan memperketat ketersediaan pasokan CPO di pasar global, sekaligus memberikan dukungan tambahan terhadap harga.
Selain itu, kenaikan biaya angkutan laut juga turut meningkatkan daya saing minyak sawit dibandingkan minyak nabati lain, seperti minyak kedelai dari Amerika Serikat dan Amerika Selatan yang memiliki jarak pengiriman lebih panjang ke pasar Asia.
BACA JUGA: Produktivitas Sawit RI Tertahan, GAPKI Soroti Keterbatasan Genetik dan Risiko Biologis
Hong Leong Investment Bank mencatat bahwa harga CPO telah melonjak sekitar 10% menjadi RM4.592 per ton dalam sepekan terakhir.
“Kenaikan harga CPO saat ini berpotensi mendukung kinerja keuangan perusahaan perkebunan dalam jangka pendek, terutama pemain hulu yang memiliki leverage tinggi terhadap harga CPO,” tulis lembaga riset tersebut.
Namun demikian, analis juga mengingatkan bahwa ketidakpastian durasi konflik geopolitik masih menjadi faktor risiko utama terhadap keberlanjutan tren kenaikan harga.
Dinamika POGO Spread dan Prospek Energi
Sementara itu, MBSB Research menyoroti pergerakan spread antara palm oil dan gasoil (POGO) yang berpotensi menyempit seiring menguatnya pasar energi.
Penguatan harga gasoil yang berkorelasi dengan minyak mentah diperkirakan dapat mendorong kebijakan biodiesel lebih agresif, termasuk potensi percepatan implementasi B50.
Dalam proyeksinya, harga gasoil diperkirakan bertahan di atas US$95 per barel sepanjang tahun ini, meningkat sekitar 7,3% dibandingkan rata-rata tahun 2025.
