Project Mechanization Department Head BGA, Yogi Akbar Hermansyah, menilai teknologi ini menjadi solusi nyata atas kelemahan metode blanket application yang masih banyak digunakan di perkebunan.
“Dengan sistem autonomous dan pemupukan terarah, efisiensi meningkat sekaligus lebih sesuai dengan kebutuhan agronomis tanaman. Selain itu, aspek keselamatan kerja operator juga jauh lebih baik,” ujarnya.
Komite Litbang BPDP, Didiek Hadjar Goenadi, menilai inovasi tersebut menjadi langkah strategis dalam mempercepat adopsi mekanisasi di perkebunan sawit nasional, terutama di tengah tingginya harga pupuk dan semakin terbatasnya tenaga kerja di sektor perkebunan.
BACA JUGA: Program Sarpras BPDP Sudah Bergulir, Namun Akses Petani Sawit Swadaya Masih Berliku
Kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam pengembangan Autonomous Intermittent Fertilizer Spreader dinilai menjadi model sinergi yang dapat mempercepat modernisasi industri sawit Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing sektor perkebunan nasional di era pertanian berbasis teknologi. (T2)
