“Tadi juga saya singgung kepada pengusaha sawit agar bagaimana caranya CSR ini bisa disalurkan secara transparan dan jelas dengan melibatkan pemerintah daerah untuk mengawal,” ungkapnya.
Sukiryanto menjelaskan, pemanfaatan CSR seharusnya tidak terbatas pada pembangunan fasilitas tertentu semata, tetapi mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat serta membantu mengurangi dampak aktivitas perusahaan terhadap lingkungan dan infrastruktur.
“CSR ini juga berguna untuk mengantisipasi dampak dari perusahaan tersebut, misalnya jalan rusak dan lain sebagainya,” jelasnya.
BACA JUGA: GAPKI: Industri Sawit Membutuhkan SDM Adaptif dan Siap Hadapi Perubahan Teknologi
Ia pun mengajak perusahaan perkebunan untuk lebih adaptif dalam menentukan prioritas penyaluran CSR.
“Jadi jangan hanya membangun masjid saja, tetapi mari kita buat aturan agar CSR benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” ajaknya.
Sukiryanto berharap deklarasi komitmen bersama tersebut menjadi langkah awal memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun industri sawit yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Sawit di Tengah Bara Konflik Global
Kolaborasi itu, menurutnya, penting agar tidak ada lagi masa depan anak-anak yang terabaikan di tengah aktivitas industri sawit yang terus berkembang di daerah. (T2)
