InfoSAWIT, JAKARTA – Chief Executive, Westbury Group, Abdul Rasheed Janmohammed, mengungkapkan, adanya penghentian sementara ekspor minyak sawit Indonesia yang dilakukan selama 28 April hingga 23 Mei 2022 telah membuat Pakistan menghadapi situasi stok yang paling rentan.
“Apalagi ketergantungan impor minyak sawit Pakistan pada Indonesia hampir 90%, itu bisa mengganggu ketahanan pangan,” katanya pada acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2022 and 2023 Outlook Price Outlook, yang dihadiri InfoSAWIT, Jumat (4/11/2022) di Nusa Dua, Bali.
Lebih lanjut tutur Abdul Rasheed, yang sebelumnya juga pernah menjabat Chairman, Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA), adanya lonjakan harga komoditas yang belum pernah terjadi sebelumnya selama periode akhir 2021 hingga 2022, ditambah dengan kenaikan biaya pengiriman yang sangat tinggi, telah menjadi tantangan besar. “Karena muncul kelangkaan pasokan dan harga yang tinggi,” katanya.
BACA JUGA: Pemerintah Dorong Peremajaan Sawit Rakyat Gunakan Sistem Tumpang Sari
Diungkapkan Abdul Rasheed, persediaan minyak sawit Malaysia pada September 2022 mencapai 2,315 juta ton dan harga juga semakin lebih layak, kendati harga minyak sawit pernah mengalami harga tertinggi mencapai RM 8.172/ton di Maret 2022 dan jatuh menjadi RM 3.145/ton pada 28 September 2022. “Telah terjadi penurunan harga sekitar 159,84 persen, kondisi ini belum pernah terjadi hanya dalam waktu enam bulan,” tandas Abdul Rasheed. (T2)
