InfoSAWIT, JAKARTA – Selama ini beragam penelitian yang dilakukan negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat kerap memojokan kelapa sawit merupakan sumber kerusakan lingkungan dan menjadi salah satu sumber meningkatnya emisi gas rumah kaca, sebab itu perdebatan mengenai kedua isu tersebut masih berlangsung.
Lantas apakah kemudian minyak kedelai sebagai saingan terdekat minyak sawit dianggap ramah lingkungan? Ternyata baru-baru ini dalam sebuah studi yang dilakukan para periset di University of Georgia menunjukkan bahwa komoditas kedelai juga tidak ramah lingkungan.
Lantaran para peneliti beranggapan bahwa sebagian besar tumbuhan kedelai yang dikembangkan ditanam dibeberapa negara belahan dunia termasuk India.
BACA JUGA: Jaga Kesuburan Lahan Sawit, Perhatikan Cara Pemupukan
Diungkapkan Periset dan Profesor di Franklin College, Amy Trauger, tidak ada yang berkelanjutan tentang model bisnis berbasis tumbuhan ini, sebab kedelai yang digunakan dalam tahu dan tempe di Amerika tidak ditanam di negara tersebut.
Dalam survei yang diterbitkan di jurnal sumber sosial, para ilmuwan dari University of Georgia menemukan bahwa banyak produk kedelai yang digunakan vegan untuk mendapatkan cukup protein seperti tahu dan tempe, sebagian besar diimpor dari India, di mana produksinya menambah deforestasi yang meluas dan mendukung hilangannya habitat.
BACA JUGA: Di 2023 PTPN V Bakal Siapkan 230 Ribu Bibit Sawit Unggul Untuk Petani
Dilansir InfoSAWIT dari Sputnik News, justru dalam penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi tumbuhan dan daging yang ditanam secara lokal merupakan cara makan yang paling etis, jika ingin melestarikan lingkungan dan melindungi hak asasi manusia. “Polusi dan dampak lingkungan dari pengangkutan kedelai ratusan ribu mil melintasi AS merupakan bencana lingkungan tersendiri,” catat laporan penelitian tersebut. (T2)
