InfoSAWIT, JAKARTA – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia dibuka lebih tinggi pada Senin, (30/10/2023), menyusul kenaikan dua sesi berturut-turut, didukung oleh menguatnya harga minyak nabati lainnya.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Januari 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 19 per ton atau terdapat kenaikan sekitar 0,50%, menjadi RM 3,794 (US$ 798,40) per metrik ton pada perdagangan pagi.
Kontrak tersebut membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut sebesar 0,11% pada Jumat kemarin.
BACA JUGA: Berikut Hasil Uji terbang Komersial Bioavtur dari Soekarno-Hatta ke Bandara Adi Soemarno,
Masih dilansir Reuters, harga minyak kelapa sawit di pasar minyak nabati Eropa menguat pada hari Jumat menyusul menguatnya harga minyak kelapa sawit berjangka di Malaysia karena kuatnya pasar minyak nabati Tiongkok yang mendukung harga, sementara lemahnya permintaan untuk produk-produk tropis membatasi kenaikan harga.
Sementara merujuk laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total ekspor bulan Agustus 2023 mencapai 2.073 ribu ton atau turun sebesar 41% dibandingkan ekspor pada bulan Juli 2023 sebesar 3.519 ribu ton. Penurunan ekspor ini lebih disebabkan oleh rendahnya produksi dan penyerapan dalam negeri yang tetap naik secara konsisten.
Dengan total ekspor tersebut, diperkirakan nilai ekspor yang dicapai pada Agustus 2023 adalah US$ 1,683 juta yang jauh dibawah nilai ekspor Juli 2023 sebesar US$ 2,918 juta.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 meningkat 0,57%. Serta harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian, DBYcv1, naik 1,31%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 juga naik 0,97%.
Harga minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya lantaran mereka bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global. (T2)
