InfoSAWIT, JAKARTA – Petani kelapa sawit selalu mendapat sorotan terkait produktivitas yang dinilai rendah. Tantangan ini menjadi fokus utama bagi para petani sawit untuk terus berupaya meningkatkan hasil pertanian mereka. Menjaga keberlanjutan sektor kelapa sawit memerlukan perhatian khusus terhadap aspek produktivitas.
Diungkapkan Ketua Pembina Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Gamal Nasir, petani sawit swadaya yang berada di hulu rantai produksi harus memusatkan perhatian pada pengembangan hulu.
Penting bagi mereka untuk tidak hanya memikirkan pabrik kelapa sawit, tetapi juga memastikan kebun mereka dikelola dengan baik. Peningkatan produktivitas di hulu akan berdampak langsung pada pendapatan petani. “Bahkan memberi peluang untuk memiliki saham di pabrik kelapa sawit, sejalan dengan semangat zaman Program Intensifikasi Replanting (PIR),” katanya dalam sebuah acara di Jambi dihadiri InfoSAWIT, akhir tahun 2023 lalu.
BACA JUGA: Merujuk Land Used, Luas Perkebunan Kelapa Sawit Capai 15,34 Juta ha di 26 Provinsi
Apalagi kata mantan Dirjen Perkebunan itu, informasi mengenai teknik berkebun sesuai dengan Good Agricultural Practices (GAP) sangat mudah diakses melalui internet. Petani sawit dapat belajar dari berbagai sumber, termasuk melalui media sosial dan grup berbagi ilmu sawit. Meningkatkan produktivitas menjadi suatu keharusan, terutama mengingat rata-rata produktivitas petani yang masih jauh di bawah perusahaan, yaitu sekitar 10 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar per tahun, sementara perusahaan rata-rata mencapai 18 ton/ha/tahun.
Dengan adanya aturan terbaru, seperti Permentan No 18 tahun 2021 tentang kemitraan, pola kemitraan telah di perluas, memberikan peluang bagi perusahaan perkebunan untuk membina petani dengan berbagai pola yang sesuai dengan peraturan kementerian terkait. “Hal ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani dan menciptakan kemitraan yang lebih baik antara petani dan perusahaan,” katanya.
BACA JUGA: India Pertahankan Bea Masuk Tinggi Pertanian, Demi Swasembada dan Ketahanan Pangan
Pemerintah juga turut memiliki program-program seperti Program Sarana Prasarana (PSR), pelatihan, dan inisiatif lainnya untuk meningkatkan produktivitas petani. Meskipun demikian, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh petani untuk dapat mengakses program tersebut. Sebagai saran, perlu dipertimbangkan untuk memudahkan persyaratan agar lebih banyak petani yang dapat merasakan manfaat dari program-program tersebut. (T2)
