Sejak Kecil Membantu Orang Tuanya
Saat masih kecil, saat libur sekolah, Derom sering membantu orang tuanya untuk memanen padi. Ibunya juga sering menyuruh Derom dan adiknya beternak untuk menambah biaya sekolah. Karena keadaan saat itu masih sulit. Setiap pulang sekolah Derom dan adiknya harus mencari makanan ternak ke ladang-ladang dan semak belukar. Setiap kali Derom berbuat menyimpang, ibunya memarahinya dengan keras.
Gigih Sekolah SMP
Derom menamatkan Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) di Berastagi pada tahun 1954. Pada saat itu SMP hanya ada di ibu kota Kabupaten, Kabanjahe, yang letaknya 11 kilometer ke arah selatan dari Berastagi. Karena ketiadaan SMP itulah Derom mendaftar di SMP Negeri Kabanjahe. Derom harus bangun pagi pukul lima untuk mempersiapkan sarapan dan berangkat naik bus pukul 06.15 menuju Kabanjahe. Hal ini dilakoni Derom setiap hari.
Gigih Belajar Ilmu Kimia
Setelah tamat dari SMP Negeri di Kabanjahe tahun 1957, Derom melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 1 di Medan. Pada masa SMA ini, Derom memperdalam bahasa Inggrisnya, Dia juga belajar bahasa Jerman dan Prancis. Pelajaran ilmu kimia yang pada awalnya sulit, akhirnya bisa dia kuasai. Derom menyelesaikan SMA pada tahun 1960.
Gigih Masuk ITB
Setelah menyelesaikan pedidikan SMA, Derom ikut seleksi masuk ITB di Medan untuk jurusan teknik mesin dan elektro, dia gagal. Derom tidak menyerah begitu saja, tekadnya untuk menjadi seorang insinyur sudah bulat. Derom menjumpai Rektor ITB dan memohon untuk diberi kesempatan pada jurusan lain yang tersedia. Tersentuh atas kegigihan Derom, rektor membantunya untuk diterima pada jurusan teknik kimia.
(Sumber: Derom Bangun: Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia, 2010 dan Derom Bangun: Pemikiran, Karya dan Pencapaian, 2023).
Penulis: Maruli Pardamean/ Praktisi dan penulis buku kelapa sawit
