InfoSAWIT, MADRID – Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) telah mengadakan pertemuan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Madrid, Spanyol, pada Selasa, 28 Mei 2024. Pertemuan ini mempertemukan pejabat pemerintah Spanyol dan pelaku industri untuk bertukar informasi dan pandangan mengenai perkembangan terkini minyak sawit serta kesiapan penerapan Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR) di tingkat negara anggota UE, serta tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit.
Wakil Sekretaris Jenderal CPOPC, Datuk Nageeb Wahab, menjadi moderator dalam pertemuan tersebut. Ia mengangkat berbagai keprihatinan dan permasalahan khususnya pada tahap awal implementasi EUDR yang akan diberlakukan mulai 30 Desember 2024. Pertemuan mencatat bahwa meskipun waktu semakin dekat, tingkat kesiapan anggota negara-negara, khususnya Spanyol, serta negara-negara produsen masih meragukan dalam mematuhi EUDR. Hal ini disebabkan oleh ketidakjelasan pedoman implementasi dari Komisi Eropa.
CPOPC menyampaikan keprihatinannya atas ketidakpastian ini, meskipun tetap optimis dengan persiapan yang dilakukan di negara anggotanya, seperti pengembangan National Dashboard di Indonesia dan e-MSPO di Malaysia untuk mematuhi regulasi tersebut.
BACA JUGA: Kemendag Penetrasi Pasar Turunan Minyak Sawit Hingga Tekstil ke Asia Tengah
Dalam sambutannya, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Spanyol, Muhammad Najib, menegaskan bahwa meskipun minyak sawit menjadi isu dan subjek EUDR, industri ini harus memahami bahwa kelapa sawit dapat berkelanjutan. “Negara produsen utama, seperti Indonesia dan Malaysia, berupaya semaksimal mungkin untuk menjamin kelestarian lingkungan,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (30/5/2024).
Sementara itu, Sekretaris Jenderal CPOPC, Rizal Affandi Lukman, menekankan pentingnya kolaborasi antara negara produsen dan konsumen dalam implementasi EUDR. CPOPC melihat tujuh bulan ke depan sebagai waktu yang sangat penting untuk menghindari gangguan pasokan dan memastikan keterlibatan petani kecil dalam rantai pasokan.
Ia mendesak Komisi Eropa untuk mempertimbangkan kesulitan yang dihadapi petani kecil serta upaya negara-negara produsen, terutama Indonesia dan Malaysia, dalam meningkatkan kredibilitas keberlanjutan melalui pengembangan platform ketertelusuran.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 1,18 Persen Pada Rabu (29/5), Harga CPO di Bursa Malaysia Pula Naik
Penasihat Eksekutif Spanish Foundation for Sustainable Palm Oil, Horacio González-Alemán, menyoroti bahwa kelapa sawit merupakan minyak nabati yang tak tergantikan di pasar UE. Ia menyatakan bahwa pengadaan sumber daya yang bertanggung jawab melalui EUDR bukanlah tugas yang mudah dan memerlukan kolaborasi untuk mengatasi permasalahan tersebut serta menjembatani kesenjangan antara negara produsen dan konsumen.
