InfoSAWIT, UZBEKISTAN – Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memperluas penetrasi pasar ke wilayah nontradisional, termasuk Asia Tengah. Salah satu langkah strategis terbaru adalah kegiatan misi dagang ke Tashkent, Uzbekistan, yang dilaksanakan pada Kamis, 23 Mei lalu. Misi dagang ini berhasil membukukan potensi transaksi mencapai USD 11,1 juta atau sekitar Rp 177,7 miliar.
Kegiatan misi dagang di Tashkent mencakup beberapa acara penting seperti forum bisnis, penjajakan kerja sama dagang (one-on-one business matching), dan pertemuan dengan pihak terkait di Uzbekistan. Dalam kegiatan ini, Kemendag memfasilitasi 19 pelaku usaha dari berbagai sektor, antara lain, produk halal (makanan dan minuman, kosmetik, perawatan tubuh, fesyen), produk kopi dan the, tekstil dan produk tekstil, produk olahan kelapa, produk turunan kelapa sawit
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi, menyatakan bahwa Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan nilai perdagangan dengan negara-negara mitra potensial, termasuk Uzbekistan. “Saya berharap misi dagang ini menjadi forum pertama bagi kami di Uzbekistan yang menandai tonggak penting dalam hubungan bilateral antara kedua negara untuk mengeksplorasi kerja sama di sektor perdagangan,” kata Didi dalam forum bisnis di Tashkent, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (30/5/2024).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 1,18 Persen Pada Rabu (29/5), Harga CPO di Bursa Malaysia Pula Naik
Didi juga menekankan kesamaan antara Indonesia dan Uzbekistan, seperti mayoritas penduduk yang beragama Islam, yang dapat menjadi dasar kuat untuk mempererat kerja sama. “Uzbekistan secara geografis terletak di kawasan Asia Tengah dan memiliki potensi untuk menjadi hub produk Indonesia memasuki pasar Asia Tengah. Sebaliknya, posisi Indonesia yang strategis di Asia Tenggara dapat menjadi hub bagi produk Uzbekistan memasuki pasar ASEAN,” jelasnya.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Uzbekistan, Sunaryo Kartadinata, menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, neraca perdagangan kedua negara menunjukkan tren positif. “Indonesia berhasil memperkenalkan beragam produk unggulan ke pasar Uzbekistan, mulai dari produk pertanian seperti kopi, hingga produk manufaktur seperti tekstil dan garmen. Produk-produk berkualitas dari Indonesia telah menjadi favorit di pasar Uzbekistan sehingga menciptakan peluang besar bagi pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara ini,” ujar Sunaryo.
Tercatat, dalam lima tahun terakhir (2019–2023), total perdagangan kedua negara menunjukkan pertumbuhan positif dengan tren mencapai 49 persen. Selama periode ini, ekspor Indonesia ke Uzbekistan tumbuh dengan tren 25,22 persen, sementara impor Indonesia dari Uzbekistan tumbuh dengan tren 54,98 persen.
Pada periode Januari—Maret 2024, total perdagangan Indonesia dan Uzbekistan mencapai US$ 35,3 juta, naik 63,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode ini, ekspor Indonesia ke Uzbekistan tercatat sebesar US$ 3,3 juta, sedangkan impor Indonesia dari Uzbekistan sebesar US$ 32 juta. Sementara pada 2023, total perdagangan kedua negara mencapai US$ 141,1 juta, dengan nilai ekspor Indonesia ke Uzbekistan sebesar US$ 16,3 juta dan impor Indonesia dari Uzbekistan sebesar US$ 124,7 juta.
Pada 2023, ekspor utama Indonesia ke Uzbekistan meliputi margarin/lemak atau minyak nabati dan fraksinya (59,84 persen dari total ekspor Indonesia), mesin listrik (11,07 persen), ekstrak, esens, dan konsentrat kopi dan teh (7,07 persen), serta minyak kelapa dan minyak inti sawit (4,79 persen). Produk ekspor potensial Indonesia ke Uzbekistan antara lain minyak sawit, minyak sayur, kendaraan bermotor untuk transportasi, serta minyak kelapa. Di sisi lain, impor utama Indonesia dari Uzbekistan mencakup pupuk mineral atau kimia, kalium (94,44 persen dari total impor Indonesia), serta bubur serat (5,39 persen). (T2)
