InfoSAWIT, MEDAN – Pemilihan jenis pupuk nitrogen menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas kelapa sawit. Praktisi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Djan Muhayat, mengungkapkan bahwa masih banyak petani yang mempertanyakan perbedaan penggunaan pupuk urea dan ZA dalam budidaya sawit.
Djan menjelaskan bahwa baik pupuk urea maupun ZA pada dasarnya sama-sama digunakan sebagai sumber unsur hara nitrogen (N), namun memiliki perbedaan signifikan dari sisi kandungan dan peruntukannya.
Menurutnya, pupuk urea dan ZA yang beredar di Indonesia telah memiliki standar mutu yang ditetapkan melalui Standar Nasional Indonesia (SNI). Urea mengacu pada SNI 2801:2010, sedangkan ZA mengacu pada SNI 02-2807:2005.
BACA JUGA: PPKSS Tayo Barokah Bangun Kantor Layanan, Dorong Kesejahteraan Petani Sawit Swadaya di Rokan Hulu
“Yang paling penting diperhatikan adalah kandungan unsur nitrogen (N). Urea memiliki kandungan N sekitar 46%, sementara ZA memiliki kandungan N minimal 20,8%,” jelas Djan, dilansir InfoSAWIT dari PPKS TV, Kamis (23/2026).
Perbedaan kandungan nitrogen ini menjadi dasar dalam menentukan dosis dan aplikasi di lapangan. Urea yang memiliki kandungan nitrogen lebih tinggi dinilai lebih efisien dalam pemupukan karena kebutuhan volumenya lebih sedikit dibandingkan ZA.
Namun demikian, ZA memiliki keunggulan lain karena umumnya diperkaya dengan unsur sulfur (S) yang juga dibutuhkan tanaman. Oleh karena itu, ZA sering direkomendasikan untuk kondisi lahan tertentu.
BACA JUGA: Koperasi BMJ Simalungun Perkuat Kelembagaan, Tingkatkan Kapasitas Petani Sawit Swadaya
“ZA biasanya lebih cocok diaplikasikan di lahan gambut karena kandungan sulfur-nya. Tetapi untuk gambut muda yang cenderung lebih asam, penggunaannya perlu diperhatikan,” ujarnya.
Djan menambahkan, dalam praktiknya kedua jenis pupuk ini tetap bisa digunakan untuk tanaman kelapa sawit, tergantung pada kondisi lahan dan strategi pemupukan yang diterapkan. Bahkan, dengan perhitungan dosis yang tepat, kualitas hasil pemupukan antara urea dan ZA dapat setara.
Namun, penggunaan ZA membutuhkan volume yang lebih besar karena kandungan nitrogen yang lebih rendah, sehingga berdampak pada kebutuhan logistik seperti kapasitas penyimpanan.
BACA JUGA: FORTASBI Ingatkan Petani Sawit Waspadai Kemarau 2026, Risiko Kebakaran Meningkat
“Kalau menggunakan ZA, dosisnya tentu lebih banyak dan membutuhkan ruang penyimpanan lebih besar. Tapi secara kualitas, jika dihitung dengan benar, hasilnya tetap bisa sama,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa keputusan penggunaan pupuk harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kondisi tanah, efisiensi biaya, hingga ketersediaan sarana pendukung di lapangan.
Dengan pemahaman yang tepat, petani dan para pelaku sawit diharapkan dapat memilih jenis pupuk yang paling sesuai untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lahan. (T2)
