InfoSAWIT, JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Musdhalifah Machmud, menegaskan bahwa industri kelapa sawit saat ini menghadapi tantangan besar yang datang dari berbagai arah, mulai dari regulasi global, isu kesehatan, hingga persepsi negatif terhadap lingkungan.
Menurut Musdhalifah, gelombang regulasi internasional terus meningkat dan banyak di antaranya secara khusus menyasar komoditas kelapa sawit. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebijakan deforestasi Uni Eropa yang akan mulai berlaku penuh pada akhir 2026.
“Regulasi global semakin banyak dan hampir semuanya menyasar kelapa sawit, termasuk isu deforestasi, standar keberlanjutan, hingga kandungan dalam produk sawit yang sering dipersepsikan negatif,” ujarnya saat berbicara pada 1st International Environment Forum (IEF) 2026, dihadiri InfoSAWIT, Rabu (22/4/2026), di Jakarta.
BACA JUGA: Apical Latih UMKM Jakarta Utara Tingkatkan Efisiensi Produksi, Dorong Daya Saing Kuliner Lokal
Ia menjelaskan, selain regulasi, kampanye negatif terkait kesehatan seperti isu kandungan 3-MCPD dan glycidyl ester juga menjadi tantangan serius. Narasi ini kerap memengaruhi persepsi publik, meskipun belum sepenuhnya didukung pemahaman yang utuh.
“Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita untuk memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat global,” tambahnya.
Dari sisi keberlanjutan, Musdhalifah mengungkapkan bahwa industri sawit sebenarnya telah bergerak sejak lama. Inisiatif global seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil telah dimulai sejak 2004, sementara Indonesia meluncurkan Indonesian Sustainable Palm Oil pada 2011 sebagai standar nasional.
BACA JUGA: Jejak Kartini di Perkebunan Sawit, Perempuan pun Jadi Pusat Perubahan
“Kita sudah berada di jalur yang benar, namun implementasinya masih perlu ditingkatkan agar seluruh perkebunan sawit memenuhi standar global,” jelasnya.
Ia juga menyoroti capaian Malaysia melalui Malaysian Sustainable Palm Oil yang telah mencapai sekitar 90% sertifikasi. Menurutnya, kolaborasi antarnegara produsen dapat menjadi strategi untuk mempercepat pencapaian standar keberlanjutan di Indonesia.
Dalam hal produktivitas, Musdhalifah mengakui masih terdapat kesenjangan yang cukup besar, terutama di kalangan petani sawit (smallholders). Rendahnya produktivitas berdampak langsung pada pendapatan yang tidak merata.
BACA JUGA: Hari Bumi 2026: Forum Internasional Kupas Mitos “Sawit Merusak Lingkungan” dan Fakta Ilmiahnya
“Produktivitas masih menjadi tantangan utama, begitu juga dengan peremajaan sawit rakyat yang belum berjalan optimal,” ungkapnya.
Selain itu, isu sosial dan kampanye negatif di tingkat konsumen juga masih marak. Ia mencontohkan masih ditemukannya label atau kampanye anti-sawit, bahkan di dalam negeri, yang menyebut sawit sebagai produk berbahaya.
“Ini ironis, karena justru di negara kita sendiri masih ada yang menyebut sawit sebagai racun. Ini menunjukkan pentingnya edukasi publik yang lebih masif,” katanya.
