Terkait isu lingkungan, Musdhalifah menekankan bahwa persepsi bahwa sawit menjadi penyebab utama deforestasi perlu diluruskan. Ia menyebutkan bahwa luas perkebunan sawit relatif kecil dibandingkan kawasan hutan dan konservasi di Indonesia.
“Perkebunan sawit hanya sekitar 7 juta hektare dibandingkan dengan puluhan juta hektare kawasan hutan. Jadi tidak tepat jika sawit selalu dijadikan kambing hitam,” jelasnya.
“Perkebunan sawit kita hanya sebagian kecil dari total daratan, namun memberikan manfaat ekonomi besar bagi ratusan juta penduduk,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti fenomena konflik satwa yang sering disalahartikan. Menurutnya, satwa seperti gajah dan orangutan masuk ke area perkebunan bukan semata karena ekspansi sawit, tetapi karena faktor ketersediaan pakan.
BACA JUGA: Disbunnak Kalsel Genjot Akurasi Data Sawit Lewat Bimtek Pemetaan 2026
“Satwa keluar dari habitatnya karena mencari makanan yang lebih mudah didapat, bukan semata karena sawit menggantikan seluruh hutan,” ujarnya.
Ke depan, Musdhalifah menegaskan bahwa industri sawit harus terus memperkuat keberlanjutan, meningkatkan produktivitas, serta memperbaiki komunikasi global.
“Kita harus menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sawit memiliki nilai strategis, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia,” ungkapnya.
BACA JUGA: Nilai Ekspor Sawit Februari 2026 Tembus US$3,69 Miliar, Naik 28,88% Secara YoY
Dengan berbagai tantangan tersebut, ia optimistis bahwa melalui kolaborasi, peningkatan standar, dan edukasi yang tepat, industri sawit Indonesia dapat terus berkembang secara berkelanjutan di tengah tekanan global. (T2)
