InfoSAWIT, JAKARTA – Kebijakan hilirisasi industri kelapa sawit yang dijalankan sesuai arahan Presiden Joko Widodo terbukti berhasil mengurangi ketergantungan ekonomi Indonesia pada fluktuasi harga komoditas global. Menurut data terbaru, nilai ekspor kelapa sawit dan produk turunannya pada 2023 mencapai US$ 28,45 miliar, setara dengan 11,6 persen dari total ekspor nonmigas. Rasio ekspor antara bahan baku (CPO/CPKO) dan produk olahan (processed palm oil) juga menunjukkan kemajuan signifikan, dengan perbandingan 10,25% : 89,75%.
Industri kelapa sawit ini juga menjadi salah satu sektor penting dalam menciptakan lapangan kerja, menyerap sekitar 16,2 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Hilirisasi sawit dianggap sebagai salah satu kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi nasional, terutama dalam mengatasi jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
Berdasarkan data Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada Triwulan II tahun 2024, yang tercatat sebesar Rp 5,536 triliun, diperkirakan sektor pengolahan kelapa sawit dan produk turunannya menyumbang 3,5 persen terhadap PDB.
BACA JUGA: Pentingnya Pengakuan Sawit sebagai Obyek Strategis Nasional
“Ini berarti nilai ekonomi sektor sawit pada Triwulan II-2024 mencapai Rp 193 triliun,” jelas Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya yang dikutip InfoSAWIT, Jumat (11/10). Ia menambahkan, pada akhir 2024 nanti, diperkirakan kontribusi ekonomi berbasis kelapa sawit dapat mencapai Rp 775 triliun per tahun.
Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan pasar domestik yang besar, memiliki potensi besar untuk menjadi negara industri maju di dunia. Menteri Agus menekankan pentingnya sinergi antara para pemangku kepentingan, baik dalam penyusunan kebijakan industri dan perdagangan, penguatan rantai pasok, pengembangan sumber daya manusia, pembiayaan, hingga riset dan teknologi.
“Dengan langkah-langkah tersebut, kita berharap sektor industri nasional, khususnya industri kelapa sawit, benar-benar mampu menjadi tulang punggung ekonomi nasional yang kokoh. Sektor ini tidak hanya berperan dalam pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan,” kata Agus.
BACA JUGA: Saleh Husin: Hilirisasi Sawit diyakini Sebagai Jalan Indonesia Menuju Visi 2045
Hilirisasi industri sawit yang berhasil meningkatkan produksi produk olahan turut memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Kebijakan peningkatan nilai tambah produk sawit tidak hanya membantu Indonesia mengatasi tantangan global, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas ekonomi domestik, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal seperti pandemi dan ketidakpastian geopolitik.
