Namun, sebelum serangga Elaeidobius jenis baru ini benar-benar dilepaskan ke perkebunan-perkebunan sawit di Indonesia, mereka harus melalui tahap penelitian dan pengembangbiakan. Para ahli berusaha memastikan bahwa spesies baru ini dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan lokal dan mampu memangkas jarak antara produktivitas riil dengan potensi maksimal yang selama ini belum tergapai.
Jika semua berjalan sesuai rencana, dalam beberapa bulan ke depan, petani dan pelaku seperti yang mungkin akan melihat perubahan signifikan. Kebun-kebun sawit yang selama ini biasa-biasa saja, bisa jadi akan menjadi ladang emas baru, dengan peningkatan produktivitas hingga 20 persen.
Di balik keputusan ini, ada harapan yang besar untuk masa depan industri kelapa sawit Indonesia. Harapan bahwa dengan inovasi dan kemauan untuk berubah, tidak ada yang tidak mungkin.
BACA JUGA: Maraknya Pencurian Buah Sawit di Desa Tengganau Resahkan Petani
“Produktivitas sawit kita, sayangnya, terus mengalami penurunan,” ujar Ketua Bidang Riset & Pengembangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dwi Asmono dengan nada serius. Ia melanjutkan bahwa produktivitas kelapa sawit di Indonesia turun sebesar 0,3 persen dalam kurun waktu 2015 – 2019 bahkan hingga sepuluh tahun terakhir. “Kendati diakui banyak faktor yang mempengaruhi, mulai dari bahan tanam, kesesuaian lahan, ketersediaan nutrisi tanaman, praktik pengelolaan terbaik, disiplin panen, hingga perubahan iklim dan tentunya, serangga penyerbuk,” tambahnya. (*)
